Pagi ini begitu berbeda dengan pagi kemarin. Sejak Ummi
bilang kalau aku harus mulai mengenakan busana muslim, aku jadi merasa aneh.
Aku merasa bahwa anak seusiaku rasanya wajar apabila belum mengenakan busana
muslim seperti yang diperintahkan Allah SWT. Karena biasanya anak seusiaku baru
mulai mengenakan pakaian muslim pada saat mereka menjadi mahasiswi, jadi untuk
apa aku mengenakan pakaian muslim? Toh selama ini aku merasa tidak pernah
melanggar ajaran Islam. Aku pun selalu jaga jarak dengan lawan jenis, tidak ada
kata “pacaran” baik dalam kamusku, Abi, ataupun Ummi.
“Ummi, Mitha mau nanya deh,” aku memulai pembicaraan pada
saat sarapan.
“Kamu mau nanya apa sayang?” Ummi kembali bertanya tanpa
menoleh ke arahku karena sedang asyik mengaduk bubur yang ada dihadapannya.
“Hmm, kenapa sih Ummi nyuruh aku pakai busana muslim
gini?” tanyaku ragu-ragu.
“Ya Allah Mitha, kamu masih aja deh nanya tentang hal
ini. Kan kemarin Ummi udah bilang, senagai kaum Hawa kita wajib menutup aurat.
Jangan kaya anak muda jaman sekarang yang buka aurat dengan pakai baju yang
kekurangan bahan, pakai baju yang lehernya membleh. Apa banget coba,” jelas
Ummi sok gaul di kalimat terakhirnya.
“Tapi temen-temen Mitha banyak Mi yang ga pakai busana
muslim,” elakku.
“Itu kan mereka. Mereka ya mereka, kamu ya kamu. Udah deh
kamu jangan banyak alasan. Kamu turutin aja dulu. Suatu saat nanti kamu akan
merasakan manfaatnya pakai baju yang menutup aurat.” Tegas Ummi.
***
“Ehh, ada Mitha. Wah, ada nagin apa nih pakai busana
muslim gini?” ucap Maya dengan nada meledek saat menyadari aku duduk
disampingnya. Maya adalah teman sebangkuku. “Cantik,” bisiknya. Aku hanya
memasang senyum manis sebagai isyarat terimakasih.
“Mitha, makin cantik aja deh dengan busana muslim kaya
gini,” puji Aril sambil berlalu dan duduk dibelakangku. Aril adalah ketua kelas di kelasku, kelas XI-A.
“Makasih Aril,” ucapku dengan mengukir seutas senyum
semanis mungkin.
“Ih Mitha, ganti penampilan nih ceritanya? Cantik, manis
pula,” puji Laras, teman sekelasku.
Hampir
semua teman-temanku merespon baik perubahan penampilanku. Sangat bertolak
belakamg dengan apa yang aku bayangkan semalam. Aku fikir, mereka akan
menertawakanku atas perubahan penampilanku.
***
“Gimana Mit kesan pertama pakai busana muslim? Pasti
temen-temen kamu pada muji kamu deh,” ucap Ummi sok tau.
“Nggak seburuk yang aku fikir Mi,” aku menghampiri Ummi
yang sedang membaca Al-Qur’an dan duduk disampingnya.
“Kalau kesan pertamanya aja menyenangkan, Insyaallah
seterusnya akan menyenangkan pula. Oh iya Ummi punya sesuatu untuk kamu. Tunggu
disini sebentar ya, 3 menit.” Ucap Ummi sambil berjalan menuju kamarnya. Tak
sampai 3 menit Ummi sudah kembali duduk disampingku dengan membawa sebuah
bingkisan.
“Apa nih Mi?” Tanyaku heran.
“Baju. Sengaja Ummi beliin unutk kamu supaya kamu makin
percaya diri buat pakai busana muslim yang menutup aurat.”
Aku menatap Ummi dengan pandangan heran dan membuka
bingkisan tersebut dengan perlahan. Ternyata isinya sebuah rok denim, dan kaos
lengan panjang warna pink lengkap dengan pasmina warna pink pula. Aku tersenyum
lebar. Ummi selalu ingat warna kesukaanku.
“Ummiiiii, lucu banget aku sukaaa. Makasi ya Ummi-ku
sayang,” aku memeluk Ummi dan mengecup pipi kanan Ummi.
“Iya sayang, sama-sama. Semoga kamu makin percaya diri dan
makin seneng pakai busana muslim,” Ummi tersenyum tulus. Senyum yang sangat aku
sukai.
“Pas banget Mi. baju ini bisa aku pakai untuk pensi
sekolah besok,” aku tertawa senang.
***
“Ta, kayanya persiapan lo mateng banget ya. Hari ini lo
cantik banget pakai busana muslim kaya gini. Baju lo bagus, cocok dipakai sama
lo. Lo juga keliatan tenang-tenang aja, padahal kan lo mau ngisi acara pensi
ini,” puji Maya.
“Hehehe, iya nih
kemarin Ummi beliin baju buat gue, katanya sih supaya gue makin seneng dan
betah pakai busana muslim. Soalnya kata Ummi, bukan cuma baju kekurangan bahan
aja yang bisa terlihat gaya. Baju muslim juga gak kalah tuh. Buktinya ya kaya
yang sekarang gue pakai. Gak norak kan? Ngomong-ngomong, gue tenang aja karena
gue yakin gue pasti bisa walaupun agak sedikit nervous. Yah enjoy aja,”
Jelasku.
“Baiklah guys, langsung aja kita panggilkan artis SMK
Lalala Yeyeye. Inilah dia, Mitha Pramandhita, kelas XI-A,” sahut MC memanggilku. Tanda bahwa aku harus segera naik panggung
dan mulai bernyanyi.
Dengan sigap aku naik ke atas panggung dan menyapa
seluruh penonton. Mereka menyambutku dengan semangat dan tepuk tangan yang
begitu meriah.
“Waw, Mitha Pramandhita. Makin cantik aja nih dengan
busana muslim bernuansa pink yang manis ini.. oh iya, kamu ingin menyanyikan
lagu apa di pensi kali ini?” MC bertanya padaku.
“Hmm, mendingan langsung denger aja deh ya,” ucapaku. Aku
tak ingin mengulur waktu. Aku bukan tipikal orang yang suka mengulur waktu
untuk hal yang tidak penting.
“Okey,” sang MC bergegas menuruni panggung.
Tak lama terdengar alunan music yang akan aku nyanyikan,
lagu yang dinyanyikan oleh Melly Goeslaw dengan judul Bunda. Aku menyanryikan
lagu itu dengan tenang dan penuh penghayatan. Setelah aku selesai bernyanyi,
aku sedikit membungkuk 30 derajat sebagai tanda terima kasih sebelum
meninggalkan panggung. Semua penonton bersorak gembira dan tepuk tangan yang
begitu meriah, membuatku tak henti-hentinya tersenyum. Akupun bergegas turun
dari panggung.
“Ciyeee
Mitha, banyak banget fans-nya. Selamat ya, perfom lo bagus banget,”puji Maya.
“Iya Mit, lo keren banget deh. Udah pinter, cantik,
manis, soleha, berbakat pula. Jadi envy deh gue, “ ucap Gita, temanku dari
kelas XI-B.
“Kalian lebay deh. Gue biasa aja tau, ga sesempurna yang
kalian fikir,” ucapku merendah.
“Mitha, selamat ya. Keren banget perfom-nya, gue suka.
Gue salut sama lo,” puji Rama menghampiriku. Kabarnya Rama sudah menyukaiku
sejak aku kelas X. Ia selalu berusaha mendekatiku, namun aku menanggapinya
dengan sikap yang biasa saja.
“Ehm,” sindir Maya, dengan spontan aku menyikut lengan
kirinya.
“Ehh, iya Ram, makasih,” aku tersenyum padanya.
***
Hari ini pukul 1 siang. Terik matahari begitu menyengat
dan menyilaukan, sehingga membuat aku untuk berjalan menuju pohon besar yang terletak
tak jauh dari sekolahku, berniat untuk berdiri dibawahnya.
“Abi mana sih, tumben jam segini belum jemput
aku. Panas pula”. Aku mengeluh dalam hati dan menghembuskan nafas. “Untung
aja bajuku lengan panjang, aku juga pakai jilbab, jadi panasnya gak begitu
menyengat kulit dan kepalaku. Ditambah lagi aku berdiri di bawah pohon ini,
adem rasanya. Bener kata Ummi, pakai
busana muslim itu banyak manfaatnya. Makasih Ummi. Tak sadar aku tersenyum
sendiri.
“Mitha, mau bareng gak?” tiba-tiba saja Rama dan motornya
berhenti di depanku dan menawarkan tumpangan.
“Hmm, nggak deh Ram. Aku nunggu Abi aja, takutnya nanti
pas aku pulang sama kamu tau-tau Abi dateng nyariin aku, kan kasian Abi. Lagian
kan bukan mukhrim kalo aku boncengan sama kamu. Maaf ya Ram. Tapi ngomong-ngomong
makasih
ya udah nawarin bareng,” ucapku dengan senyum tulus.
“Ohh gitu, yaudah deh gapapa ko. Kalo gitu gue duluan
ya,” Rama tersenyum padaku dan bergegas pergi meninggalkanku.
“Senyumnya manis
banget,” ucapku dalam hati.
”Astaghfirullah, gak boleh Mitha. Jaga hati, jaga mata, jaga mulut, bukan
mukhrimnya Mitha. Inget kata Ummi kalo kita harus lawan nafsu.” Aku
tersadar dan langsung istighfar. Aku ingat apa yang dulu Ummi pernah bilang,
sebagai umat Islam kita harus lawan hawa nafsu dan gak boleh tergoda sama lawan
jenis.
Tiiin! Suara
klakson mobil membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan ternyata Abi sudah datang
menjemput.
“Kamu ngeliatin apa sih Mitha, dipanggilin gak
denger-denger, akhirnya terpaksa Abi bunyiin klakson biar kamu denger.” Protes
Abi.
“Maaf Bi, heheh”
Sesampainya
di rumah aku menghampiri Ummi dan memeluknya. “Makasih ya Ummi, Ummi udah
nyuruh aku pakai busana muslim. Ummi bener, pakai busana muslim ini banyak
manfaatnya, juga gak terlihat norak karena bajunya bisa di mix and match. Mulai
sekarang aku akan terus pakai busana muslim. Aku baru sadar setelah pakai
busana ini beberapa minggu, bener-bener bawa berkah Mi. ngurangin panas yang
begitu menyengat kulit, juga menghindari
niat jahat orang untuk macem-macem sama aku karena aku menutup aurat aku,
sehingga membuat mereka gak nafsu ngeliat aku. Makasih ya Ummi, aku sayang deh
sama Ummi.”
Ummi
menatap Abi dengan heran. Mungkin Ummi bingung kenapa tiba-tiba aku bersikap
seperti ini. Namun inilah hikamhnya. Aku senang menggunakan pakaian muslim
karena alasan yang sangat tepat adalah menghindari orang yang ingin berniat
jahat padaku. Terima kasih Allah SWT yang telah memberiku nikmat seindah ini J

0 komentar:
Posting Komentar