CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Jumat, 25 Mei 2012

Masalah Bukanlah Penghancur Kebahagiaan

Mungkin takdir memang kejam. Namun kita bisa apa jika memang sudah seperti itu suratan dari Allah swt? Sebenarnya semua musibah yang menimpa kita bukanlah untuk menjatuhkan kita, tetapi justru untuk membangkitkan kita supaya kita bisa lebih kuat lagi. Itulah tantangannya. Sebenarnya nggak salah kalo ada yang mengeluh atau menyerah, namun coba kita bayangin gimana kedepannya kalo kerjaan kita cuma ngeluh setiap ada masalah? Yang ada malah nambah masalah itu mah! Jangan mau kalah dari masalah! Kita gak boleh jadi manusia cupu yang kerjaannya cuma ngeluh, nangis, putus asa-halaaaaahhh. Iya sih gue juga kaya gitu. Tapi kan apa salahnya kalo kita berjuang sama-sama buat menyelesaikan masalah kita? Kita bisa share ke temen-temen tentang masalah kita, walaupun temen gak bisa bantu sepenuhnya atau cuma dengerin curhat atau ngedoain aja, itu juga tandanya temen peduli sama kita, dia juga bantu kita dalam melegakan hati kita yang penuuuuuuh sama beban. 1 lagi, kita harus yakin kalo kita bisa dan kita harus positf thinking. Inget loh, positif atau negatifnya penilaian kita dalam suatu masalah juga berpengaruh dalam masa penyelesaian masalah yang kita hadapi. Masalah itu jangan dibebanin banget, yang ada malah bikin kita jadi gelo. Stay cool aja, jangan lupa berdoa dan berusaha untuk melakukan yang terbaik :) Kayanya ga mungkin ya ada "menyelesaikan masalah tanpa masalah"? mustahil deh. Yahhh logika aja :) intinya kita harus kuat, gak boleh nyerah :D

Kamis, 24 Mei 2012

Don't be sad Afni


Hari Senin, 14 mei 2012 sehabis upacara di kelas tepatnya di bangku yang aku dudukin bareng afni (yang pakai kerudung biru) aku menemukan savira yang lagi duduk bersebelahan sama afni menyimak ceritanya temen yang kita sayangi itu. Tanpa sengaja aku ngeliat afni nangis sambil cerita dan savira berusaha menghiburnya. Aku yang bingung melihatnya kemudian menghampirinya dan bertanya, "loh, afni kenapa ko nangis?". Mungkin teman-temanku yang lain mendengar ucapanku dan mereka segera menghampiri afni yang tampak bersedih. Mereka tampak simpatik melihat mimik kesedihan yang ada pada wajah afni. Aku semakin bingung dan kemudian menoleh ke arah savira yang tengah merangkulnya, aku menatapnya dan savira mengisyaratkanku untuk tidak banyak bertanya dengan tatapan mengancam dimata sipitnya. Aku kemudian menatap ingri. "Beh, afni kenapa?" aku bertanya pada ingri yang kemudian menghampiriku. "Bokapnya masuk rumah sakit." jawab ingri dengan nada pelan seakan takut membuat afni semakin bersedih. "emang sakit apa?" aku semakin penasaran. "ada tumor di otaknya," jawab ingri yang masih dengan nada pelan sambil menunjuk ke arah kepala bagian belakangnya." Aku terdiam dan menatap afni. "Afni jangan nangis," ucapku. Tapi  sia-sia, ucapanku tidak di respons olehnya. Aku menangis melihat sahabatku menangis. Aku sempat menoleh ke teman-temanku yang berada di sekitarku, tampak beberapa yang juga ikut menangis dan aku memilih untuk diam menunggu situasi mulai tenang dan bertanya pada afni. Setelah situasi tenang dan aku bertanya mengenai keadaan ayah dari afni, aku mendapat informasi bahwa ayahnya terkena sakit tumor ganas yang menyerang bagian dalam kepala sang ayah dan di atas paru-paru. Beliau sudah di rawat di rumah sakit selama 1 bulan, dan hari sabtu kemarin sudah di bawa pulang untuk di rawat di rumah saja. Kemudian timbul rasa kecewaku mengapa afni tidak menceritakan semua ini kepada kami, mengapa afni memilih untuk diam dan memendam perasaan sedih itu sendiri. Toh selama ini juga kami sering berbagi cerita satu sama lain. Akupun tidak menyangka bawa afni mengalami musibah seberat ini, karena sikapnya selama di sekolah ia sama sekali tidak terlihat tegang, sedih, ataupun segala sesuatu lainnya. aku bertanya padanya dan ia hanya menjawab, "emang harus cerita beh?" Ya Allah afni, betapa tegarnya kamu! Akhirnya kami memutuskan untuk menjenguk. Aku dan beberapa teman lainnya beserta wali kelas datang ke rumah afni. Keadaan ayahnya begitu memprihatinkan. Beliau meggunakan tabung oksigen sebagai alat untuk bantuan bernafas, dan nafasnya tak beraturan, tubuhnya kurus. Hampir saja aku menangis melihatnya, namun melihat afni tidak menangis akupun mengurungkan diri untuk menangis. Esoknya, selasa tanggal 15 mei 2012, tepatnya sehabis sholat dzuhur. Aku dan afni memutuskan untuk membeli es di kantin. Setelah mendapat es yang kami mau, kami pun langsung bergegas menuju kelas. Ketika hendak menuju ke arah kelas, kami berpapasan dengan Pak Jebel, wali kelas kami. Ia memerintahkan afni untuk menghadap ke ruang BK. Tiba-tiba aku mulai merasakan degup jantungku berdegup kencang, perasaanku tak enak. Afni menatapku  dan  bertanya padaku. Namun aku hanya bilang bahwa aku tidak tau, sementara hatiku menolak. Aku memasuki kelas dan sebelumnya berpapasan dengan mema. "afni dicariin pak jebel," ucapnya cempreng. "iyaa mema udah tau," jawabku. Aku melihat seorang lelaki berjalan setengah berlari ke arah ruang guru yang tak jauh dari kelasku. Ternyata lelaki itu kakaknya afni , ia menyuruh afni untuk pulang. Aku dan afni memasuki kelas dan kemudian kembali keluar kelas, aku hendak mengantar afni ke ruang BK. Afni bilang ayahnya kritis, ia menangis. Setelah mengantar afni ke ruang BK, aku beranjak menuju kantin karena melihat savira dan ingri sedang jajan. Di dalam kantin aku melihat dewi tengah menangis, aku semakin bingung. ada apa sih sebenernya? batinku. Akupun beranjak menuju kelas bersama savira dan ingri. Aku semakin bingung ketika memasuki kelas. Semua teman-temanku menangis. ada apa sih sebenernya? batinku. Tanpa bertanya kepada siapapun, aku sudah tau jawabannya. Ada sesuatu yang terjadi pada ayahnya afni! Aku menangis. Melihat air mataku berlinang, ingri pun panik dan matanya berkaca-kaca. "Qori, kenapa?" aku bertanya pada Qori, masih tetap dengan linangan air mata. "Bapaknya afni udah ga ada beh," qori menangis kejar dan aku semakin terisak. "Tadi pak jebel manggil aku. Pak jebel bilang gini, untung kemaren kita sempet jenguk bapaknya afni ya. Loh emang kenapa pak? Bapaknya afni udah ga ada," dewi bercerita dan terus menangis. Pada saat itu suasana haru menghiasi kelas XI-PS. Akhirnya afni pulang dan ketika pulang sekolah teman-teman XI PS langsung berbondong-bondong datang ke rumah afni, kami hendak melayat. Aku melihat afni tengah berdiri di teras rumahnya. Aku menghampirinya, menjabat tangannya, dan menangis dalam peluknya. "Afni yang sabar ya, yang tabah," aku mengusap pundaknya. Aku tak henti-hentinya menangis, bahkan ketika kami membacakan surat Yassin di hadapan jenazah almarhum, aku masih terus menangis memikirkan bagaimana perasaan hati afni. Bagaimana bisa afni tetap tersenyum dalam keadaan duka seperti ini? batinku lirih. Beberapa teman sempat memarahiku karena aku tak berhenti menangis sementara afni tidak menangis. Tapi aku malah balik memarahinya karena akupun sebenarnya tak ingin menangis, tapi air mata ini tak henti-hentinya menetes membasahi pipiku, terlebih lagi ketika jenazah dan rombongan berangkat menuju kampung halaman afni di ciamis. Kabarnya jenazah almarhum akan dimakamkan di sana. Meskipun afni tampak tegar, aku paham betul bahwa hatinya sesak. Terlebih lagi ketika Afni mengupdate status di sebuah account facebook miliknya, "Kangen nasihatnya :'(" Afni, jangan sedih lagi.. Kita semua sayang afni.. Kita semua masih ada untuk nemenin afni.. We love you afni.. Kita gamau afni larut dalam kesedihan panjang.. Kita akan selalu ada untuk afni, insya allah..