CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Jumat, 14 November 2014

Tentang Aku yang Merindukanmu, Ayah

Ini tentang aku Ayah, tentang aku yang merindukanmu setiap hari.
Tentang aku yang kebingungan entah dengan cara apa agar aku mendapat perhatianmu.
Tentang aku yang tidak mengerti apa saja kesibukanmu sehingga engkau jarang memiliki waktu luang untuk sekedar duduk santai dan  bertukar cerita denganku, membicarakan kegiatanku di kampus, atau membagi ceritamu tentang apa yang setiap harinya engkau sibukkan.
Tentang aku yang selalu iri dengan teman-temanku yang ayahnya selalu menyempatkan waktu luang untuk mengobrol dengan anak-anaknya.

Ini bukan sekedar tentang aku dan keegoisanku yang selalu ingin bersamamu layaknya masa kecilku yang indah dulu, tetapi tentang seorang anak yang haus akan perhatian orangtuanya.
Tentang seorang anak yang setiapharinya merindukan kehadiranmu.
Tentang seorang anak yang mengharapkan waktu luangmu.
Tentang seorang anak yang selalu ingin dekat dengan ayahnya.

Ayah, jikalau engkau setiapharinya sibuk dengan ibu tiriku dan kakak-kakak tiriku, lalu dengan siapa aku dan kakak serta adik kandungku menghabiskan waktu bersama?
Raga kami dengan ibu kandung kami jauh yah, kami tak bisa dengan cepat menghampirinya lalu meminta secuil perhatian yang seharusnya kami dapat dari engkau.
Mengertilah ayah, bahwa kami terlebih aku sangat merindukanmu.
Mengertilah, bahwa kami membutuhkanmu untuk ada disamping kami.
Kakak-kakak tiriku itu lelaki yah, aku yakin mereka bisa menjaga diri, apalagi umur mereka bukan 'anak kemarin sore' lagi.
Sedangkan kami perempuan, walaupun kami masih bisa menjaga diri, tapi pada dasarnya kami tetap anak perempuanmu yang teramat sangat membutuhkan perlindungan darimu agar kami selalu merasa 'aman'.
Mengertilah yah, saat kami ingin engkau ada disini untuk berkumpul bersama agar makna 'keluarga' tidak hilang didalam rumah yang dulunya hangat ini.
Mengertilah, disini ada kami yang menutupi kesedihan kami yang merindukan ayahnya sendiri, padahal kami tinggal satu atap denganmu, tapi mengapa kami tidak merasakan hangatnya sentuhan kasihmu di rumah ini yah?

Oh iya, ayah tau tidak, bahwa saat aku pulang kuliah, rumah sangat terasa kosong.
Aku merasa kesepian yah, aku takut, bahkan aku diam-diam hampir setiap hari menutupi muka dengan bantal di kamar lalu menangis sampai tersedu-sedu.
Saat di rumah tidak ada makanan dan tidak ada bahan makanan yang bisa aku masak, aku dengan sigap masuk ke kamar, lalu memaksakan untuk tidur dengan harapan aku lupa akan rasa laparku.
Hmmm, satu lagi, aku memendam ini sejak lama yah.
Aku pikir aku bisa untuk selalu memendam perasaan yang membuat sesak ini sendirian, tapi ternyata aku tidak bisa yah.
Aku butuh teman untuk berbicara, teman yang memuatku lupa akan rasa sesak yang kian mencekam ini.

Iya yah, aku butuh 'teman'. Teman untuk berbagi.
Dan aku sudah mendapatkannya yah.
Ia selalu menyemangatiku, memarahi aku saat aku malas belajar, mengingatkanku untuk tetap menjaga kesehatanku, mengajakku solat, bahkan ia tak pernah lupa menegaskan kepadaku bahwa aku harus bisa membuat ayah bangga karna ayah memiliki aku, juga untuk selalu menuruti apa yang ayah bilang.
Tapi kenapa ayah menyuruhku menjauhinya? Sementara perhatian yang aku butuhkan darimu selalu aku dapatkan darinya.
Ia anak yang baik yah, percayalah padaku. Aku tidak mungkin dekat-dekat dengan orang yang membawa pengaruh negatif untuk hidupku. Dan aku tidak akan melakukan hal buruk yang sekiranya dapat merusak nama baikmu, aku tidak sebodoh itu ayah.

Ayah, mengertilah bahwa aku sangat membutuhkan sedikit dari waktu yang engkau punya.
Percayalah bahwa aku akan selalu menjaga diri dan menjaga nama baikmu.

Dengarlah sedikit keluhan hati ini yang aku sendiri sudah tak mampu untuk memendamnya sendiri.
Aku ingin kedekatan kita saat aku kecil terulang kembali, aku ingin bernostalgia denganmu, dan aku ingin bermanja-manja denganmu, bahkan aku ingin disuapi makan lagi, seperti dulu, olehmu yah, superman-ku.
Jaga kesehatanmu ya yah, agar aku masih bisa melihat tubuh separuh bayamu, melihat senyummu, menatap mata tulusmu, serta membahagiakanmu.
Do'aku selalu mengalir untukmu yah, dan tak akan pernah berhenti.
Aku mencintaimu, ayah..
Dan aku sangat  merindukanmu.