CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Senin, 21 Oktober 2013

Suksesku, Demi Mereka

Suksesku tidak lain tidak bukan akan kupersembahkan untuk Mama. Untuk Mama yang senantiasa tidak pernah terputus mendoakanku siang dan malam. Untuk Mama yang senantiasa berkorban waktu untuk membesarkanku dengan sepenuh hati.
Untuk Mama yang senantiasa membuatkan aku sarapan pagi meski terkadang aku menyisakan sarapan itu karena diburu waktu untuk menuntut ilmu. Untuk Mama yang senantiasa menyetrikakan bajuku meski kadang aku sering memberantakkan tumpukkan baju. Untuk Mama yang selagi kecil tak pernah mengeluh memberiku asi esklusif sehingga aku terlahir dengan sempurna tanpa cacat sedikitpun.
Untuk mama yang tidak pernah kenal lelah memberiku kasih sayang yang tak terbatas waktunya. Untuk Mama.. yang mengandungku selama 9 bulan dan mau berkorban nyawa demi aku terlahir di dunia. Tapi Tuhan tau, Mama seseorang yang hebat. Mama masih diberi kesehatan sampai sekarang. Tuhan masih ingin Mama membesarkan anak sepertiku dengan sabar. 
Ma… Semoga Tuhan memberi kasih melimpah pada Mama.
Maafkan jika sampai detik ini aku masih saja sering menyusahkan Mama. Maafkan jika sampai detik ini aku masih saja belum bisa membanggakan Mama. Maaf jika sampai detik ini Mama masih harus bangun pagi untuk membangunkanku dan menyiapkan aku sarapan.
Ma…. Semoga Tuhan memberi Mama panjang umur selalu.
Aku sedang dalam berjalan menuju suksesku,ma. Aku sedang dalam berjalan menuju menjadi seseorang yang dapat membanggakanmu,ma. Jangan dulu pergi menuju Tuhan sebelum aku sempat membanggakan Mama. Jangan dulu Mama menghadap Tuhan sebelum aku sempat menghadap Mama yang menangis haru melihat kesuksesanku. 
Ma.. Aku sayang padamu,ma. Aku menyayangimu melebihi aku mencintai diriku sendiri,ma. Aku mencintaimu karena aku tahu, daging yang menempel di tubuhku ini adalah bagian dari dagingmu,ma. Darah yang mengalir di tubuhku ini merupakan darahmu,ma. 
Aku percaya bahwa Kesabaranmu, ada mengalir deras di darahku. Aku percaya bahwa aku bisa berkorban demi suksesku berasal dari Jiwa Berkorbanmu yang sekarang ada menempel di tubuhku.
Aku berjanji, suatu saat nanti, aku akan membuatmu bangga. Membuatmu bangga sebagai Mama yang telah melahirkanku. Membuatmu bangga sebagai Mama yang telah membesarkanku. 
Ma.. Aku mencintaimu. 
Suksesku kupersebahkan untuk Papa. 
Untuk Papa yang sering pulang malam karena bekerja demi satu butir nasi yang setiap harinya kumakan. Untuk Papa yang sering pulang malam karena ingin anak istrinya tercukupi kebutuhannya. Untuk Papa yang aku lihat belum punya baju baru saat lebaran dan ketika kutanya mengapa, Papa hanya jawab; Papa ingin anak-anaknya dulu yang bahagia mendapat baju baru. Untuk papa yang sering marah, padahal itu demi kebaikanku sendiri. Untuk Papa yang sering mengkhawatirkanku padahal papa hanya takut anaknya tertimpa sesuatu yang buruk. Untuk Papa yang selalu diam padahal di setiap doanya selalu menyebut nama anak-anaknya dalam tangis.
Untuk papa yang aku sayangi..
Aku selalu berdoa agar Papa selalu di beri perlindungan..
Aku ingin Papa selalu sehat. Aku ingin Papa selalu pulang dalam keadaan selamat. Aku ingin Papa selalu bisa kubawakan tasnya sepulang Papa kerja. Aku ingin melihat Papa meminum kopi di sela-sela pertandingan bola di tengah malam. Aku ingin menemani Papa melihat acara debat dan memaki pembicara yang padahal aku sendiri tidak tahu isi acara itu.
Aku selalu ingin bersama Papa…
Papa yang selalu diam. Papa yang selalu keras. Aku tahu kenapa Papa seperti itu. Papa mengalami kejamnya dunia setiap hari di luar sana hanya demi membelikanku buku untuk aku menuntut ilmu. Papa diterjang hujan dan panas di luar sana hanya untuk memberiku uang untuk aku dapat terus bersekolah.
Aku ingin Tuhan memberikan Papa umur yang panjang.
Agar Papa bisa lihat bahwa anak bandel sepertiku, bisa menjadi seseorang yang dapat Papa banggakan. Agar Papa bisa datang ke acara wisudaku dan melihatku menyelesaikan studiku dengan sempurna. Agar Papa bisa mengantarku ke airport untuk mengantarku belajar S2 di luar negeri sana. Agar Papa bisa melihatku menggunakan pakaian kerja yang anggun/gagah dan Papa bisa melihat bahwa anak kesayangannya bisa terlihat rapih dan berwibawa. 
Aku ingin Papa menjadi saksi dihari nanti ketika aku bersanding dengan pilihanku. Aku ingin Papa menjadi saksi ketika aku dan dia mengucap janji suci di hadapan Tuhan. Aku ingin Papa yang pertama kali menggendong anak-anakku kelak. Aku ingin Papa. 
Papa. Maafkan aku yang belum bisa membahagiakan Papa. 
Belum bisa membuat Papa tersenyum, yang ada hanya merepotkan dan menyusahkan Papa. Belum bisa membuat Papa mencium pipiku bangga, yang ada hanya aku yang selalu membuat masalah.
Tapi yakinlah, Pa. Di dalam daging di tubuhku ini, ada dagingmu. Di dalam darah yang mengalir di tubuhku ini, ada darahmu. 
Sebagian keberanian Papa, menempel di tubuhku. Sebagian ketangguhan Papa, mengalir deras di darahku. 
Suatu hari nanti, aku janji. Aku akan memberikan Papa sebuah kebanggaan meski tak dapat membandingi perasaanku yang bangga memiliki Papa yang hebat sepertimu. 
Suatu hari nanti, aku akan sukses. Aku akan menjadi seseorang. Untuk Papa dan Mama, sekarang aku berjuang.
Karena aku tahu. Perjuanganku tidak berarti apa-apa dibandingkan perjuangan Papa dan Mama membesarkanku selama belasan tahun dan sampai nanti. Pengorbananku tidak berarti apa-apa dibandingkan pengorbanan Mama dan Papa untuk merawatku dari kecil hingga sekarang dan hingga nanti.
Aku menyayangi kalian. Papa, Mama. :)

Jangan!

Jangan. 
Jangan dulu pergi,ma.
Mengandungku selama 9 bulan, bahkan lebih atau kurang. Aku tidak tahu bagaimana rasanya mengandung. Waktu aku membawa tas sekolahku yang beratnya tidak sampai 1 kg, badanku sudah lelah. Aku bisa membayangkan bagaimana rasanya sebuah perut yang sejak gadis kau rawat, membawa sebuah amanah dari Tuhan yang beratnya tak dapat kubayangkan. Menahan sakit karena aku yang terlahir sudah nakal senang menendang-nendang perut mama, padahal itu hanya membuat mama kesakitan. Menahan segala egois memakan makanan yang dilarang dokter hanya demi buah hati terlahir sempurna. Mengorbankan nyawa demi melahirkanku. Membesarkanku tanpa lelah. Terbangun di tengah malam dan menahan sakit ketika menyusuiku. Terbangun di tengah malam dan membersihkan kotoranku di popok-ku. Apalagi ketika aku dengan tidak sadar mengompol di baju barumu, tak ada marah sedikitpun tersirat di wajahmu. Mama membelai wajahku. Tak ada marah sedikitpun. Tak ada keluh sedikitpun. Membangunkanku ketika aku beranjak dewasa. Menyiapkan sarapan untukku. Menyetrikakan seragam sekolahku. Menyisirkan rambutku. Mengambil rapot sekolahku dan bahkan jika prestasiku menurun, mama tidak pernah memarahiku. Ketika aku dengan sengaja menyisakan makananku yang aku tidak pernah tahu bagaimana mama susah payah memasaknya, terkena cipratan minyak panas, terkena air mendidih, aku tidak tahu. Ketika aku pulang malam karena terlalu asyik bermain, mama mencariku, yang aku bahkan tidak tahu mama menangis di rumah menghawatirkan keadaanku di luar sana. Ketika aku pulang membawa orang yang aku sayangi untuk di kenalkan pada mama, aku tidak tahu bahwa mama takut malaikat kecilnya terlalu cepat untuk berpisah dengannya. Ketika aku belajar untuk memutuskan pilihanku dan berdebat denganmu mama, mama selalu mendoakan yang terbaik meski keinginan mama tidak sejalan dengan malaikat kecilnya. 
Mama menyayangiku lebih dari dia mencintai dirinya sendiri. 
Jangan dulu pergi sebelum aku sempat membalas kasih sayangmu,ma…
Jangan dulu pergi,pa. 
Mencari rezeki rupiah demi rupiah. Menerjang teriknya panas dan menembus derasnya hujan. Kau lakukan semua demi anak istrimu. Bahkan ketika papa kutanya mengapa bekerja sekeras itu, papa hanya menjawab ini semua semata-mata demi anak papa. Jagoan kecil papa. Mungkin aku lupa, tapi aku berusaha ingat. Ketika Tuhan memberiku hidup, papa yang pertama kali menitikkan air mata dan membisikkan kalimat-kalimat indah itu ke telingaku(karena aku muslim, papa membacakan aku adzan). Dalam kalimat indah itu, papalah yang berdoa pada Tuhan, meminta agar malaikat kecilnya dapat tumbuh menjadi orang hebat yang berguna bagi orangtua, dan juga orang lain. Aku mungkin lupa, tapi aku ingat. Ketika masih bayi, aku sering sekali mengganggu waktu papa yang sangat lelah sepulang bekerja. Aku menangis, bahkan ketika mama menggendongku, aku tak kunjung berhenti menangis. Ketika papa menggendongku dan papa bernyanyi yang bahkan mungkin suara papa bernyanyi tidak akan lulus di studio rekaman. Suara papa, terdengar merdu. Walau terdengar lelah, papa tidak berhenti bernyanyi sambil berkata anak baik tidak boleh menangis. Tangan papa, suara papa, membuatku tertidur lelap… dalam gendongan papa. Mungkin aku lupa, tapi aku ingat. Papa selalu menyuapiku sarapan, memandikanku, bahkan mengajarkanku memakai baju ketika aku masuk sekolah. Papa juga yang memarahiku ketika aku terjatuh di sepeda. Papa bilang anak pintar tidak boleh menangis. Sekarang aku tahu, Papa mengajarkan aku untuk bisa menjadi manusia yang tangguh, yang tidak mudah menyerah pada tantangan di hidup ini. Papa yang ketika aku menginjak dewasa semakin khawatir kehilanganku. Papa yang selalu menganggapku belum dewasa padahal papa hanya ingin aku terus menjadi malaikat kecil yang meminta papa memangku dan menggendongku. Papa yang selalu menelfonku ketika aku pulang larut dan menanyakan keadaanku. Papa yang semakin tua dan rambutnya semakin putih. Papa yang selalu diam padahal papa setiap doa tidak meluputkan namaku dari doanya. Papa yang setiap harinya memikirkan apa yang dimakan malaikat kecilnya sudah cukup bergizi atau belum.
Jangan dulu pergi, ma. 
Jangan dulu pergi sebelum aku sempat memberi mama bangga yang sedang aku usahakan. Jangan dulu pergi sebelum aku sempat membalas semua kasih sayangmu meski aku tahu aku tidak akan pernah bisa, karena kasih sayangmu sungguh lebih luas dari samudera. Jangan dulu pergi sebelum aku sempat membuat mama tidak marah-marah lagi karena aku malas belajar karena aku sering pulang malam. Jangan dulu pergi sebelum aku sempat mengubah air mata yang sering mama keluarkan karena kesal padaku, menjadi sebuah air mata haru melihatku sukses. Jangan dulu pergi sebelum aku sempat bersujud di kedua kaki mama untuk meminta restu untuk tinggal dengan pasangan pilihanku. Jangan dulu pergi sebelum aku sempat membuat mama bahagia menikmati masa tua. 
Papa, jangan dulu pergi. 
Jangan dulu pergi sebelum aku berhasil menjadi seseorang yang tangguh sepertimu. Jangan dulu pergi sebelum aku berhasil membalas semua letihmu membesarkanku, meski aku tahu letihmu sudah mengering dan tak dapat kubalas dengan apapun. Jangan dulu pergi sebelum jagoan kecilmu ini berubah menjadi seseorang dewasa yang dapat membuat manfaat bagi orang lain sepertimu. Jangan dulu pergi sebelum aku bisa membuatmu yang mencariku setiap waktu karena aku pulang malam, menjadi mencariku karena kau ingin mengenalkan pada relasimu bahwa anakmu tumbuh menjadi seseorang yang sukses. 
Apa yang aku bisa balas pada kalian? Kasih sayang yang kalian berikan, lebih luas dari tata surya. Kasih sayang yang kalian limpahkan, lebih banyak dari pasir di pantai. 
Jangan dulu pergi, ma, pa. 
Tuhan, jangan ambil papa dan mama. 

Selasa, 16 Juli 2013

Terlalu Dini, karya Rahne Putri

Terlalu dini untuk sakit hati..
Ada cerita yang belum siap patah lagi..
Ada malam yang terus menolak sepi..

Terlalu dini untuk tersesat lagi..
Ada langkah yang lelah mencari..
Ada nafas yang terengah dan mengemba di sanubari..

Terlalu dini untuk kehilangan kamu..
Ada damba yang tak ingin lepas..
Ada rindu yang tak ingin kandas..

Ah tapi saat kamu pergi aku juga diam..
Ada pinta yang tak menjadi kata menisankan diri..
Hanya harap kamu berbalik dan kembali dalam hati..

Ia memenjarakanku..
Ketakutan menyergap kepalaku..
Bagaimana cara bertemu kamu?
Harus berjalan atau berlari?
Aku takut kamu terlewat dan aku mencarimu lagi sendiri..



Terlalu Dini, karya Rahne Putri - https://twitter.com/rahneputri

Jumat, 05 Juli 2013

Aku Kalah, karya Zarry Hendrik

Apa orang yang memperlakukanmu dengan begitu baik harus diam-diam menjahatiku?
Kudengar ia orang yang baik, pekerja keras, mau mengalah, rajin beribadah, dan namun diam-diam mengungkapkan peasaannya kepada kekasihku dan itu kau.
Aku kalah. Aku lengah.
Sesaat setelah aku berkedip, kau lenyap.
Kau kekasihku telah direnggut.
Perasaanmu kini terbelah, setengah untuk orang yang begitu baik,
mungkin setengahnya lagi hanya untuk kutanya-tanya.
Aku tidak menyalahkanmu.
Kan kulihat kau bahagia.
Hanya dulu aku dapat melihat hati yang penuh pada sepasang bola matamu.
Sekarang aku kagok oleh karena begitu banyak ketakutan didalamnya.
Aku ingin bertepuk tangan, namun khawatir kau tersinggung.
Apakah ini pertanda untukku meniti hidup yang baru untuk seseorang yang baru?
Aku tidak yakin.
Sebab sampai dihari ini rindu selalu lebih kuat dari kekecewaan.
Aku tidak mau memilih pengganti dengan hati yang hanya memberikan rasa kasihan.
Hati yang menjerit tidak harus selalu menyerukan kesepian.
Biarlah aku sendiri, asal tidak memiliki yang tidak aku cintai.
Ini lebih baik daripada asal-asalan.
Hanya dengar kekasihku..
Jangan karna tau cinta aku begitu besar, cintaku jadi tidak berarti apa-apa.
Kau tau kalau kau mencintaiku.
Namun cintakah yang kau inginkan?
Jika kau bilang kau lebih mencintaiku, lalu untuk diakah sisanya?
Isi hatimu dipertanyakan.
Sekarang bayangkan jika hati kekasihku dicuri orang,
akankah hatinya akan kembali dengan utuh?
Karena siapakah aku yang menjawab tanya sendiri?
Mungkin ini pelajaran bahwa ada juga cinta yang jahat.
Cinta yang mencari celah untuk dapat memisahkan 2 hati yang menyatu.
Aku dan kamu yang dulu pernah menjadi kita.
Baiklah, baiklah..
Biar bumi berputar, waktu berjalan, dan aku terpaku saja akan bayang-bayangmu.
Yang baik selalu menang..
Yang terbaik hanya dikenang..


Aku Kalah, karya Zarry Hendrik - https://twitter.com/zarryhendrik

Kamis, 18 April 2013

Ini Sahabatku, Mana Sahabatmu? ƪ(˘⌣˘)ʃ

selamat sore!
Kali ini gue mau posting foto sahabat-sahabat gue :D
Sebenernya sahabat gue banyak, tapi disini gue sebutin yang tiap hari main bareng aja hihi.
Yuk kita mulai :D

---------------------------------------------------------------------------   

 
Qori (Ade Khairiyah, 18 September 1995)

Qori ini bener-bener buku diary gue bangeeeeeet.
bercita-cita jadi transliter, paling mengerti gue. paling cantiiiiiik :$
dia selalu sejalan dengan gue.
sejalan pikiran, sejalan perasaan, sampe sejalan pulang malah hahaha :D
Hatinya udah taken banget sama lelaki berkumis tipis yang udah 5tahun dia kenal.
Hmmm, semoga sampe ke pelaminan yah :D

 ---------------------------------------------------------------------------

Afni (Afni Nur Afiyah, 4 November 1994)

Afni adalah sahabat gue yang paling kalem, tapi suka heboh :D
dia penyayang, pinter, perhatian, care banget.
Afni ini temen shoping gue, kalo ada event tertentu kita suka beli baju bareng.
Afni ini cita-citanya mau jadi guru loh! mulia banget kan?
iyalah, temen gue hihi :D

  --------------------------------------------------------------------------- 

Ninis (Choirunisa, 12 April 1995)
Cewek cantik yang biasa gue panggil boyen, koran,
ataupun benis ini adalah cewek yang paling sabar dalam ngadepin lelaki.
Ninis ini apal banyak lagu dangdut maupun lawas.
suaranya emas loh, kayak bagus :D
Tadinya mau gue daftarin ikut Idola Cilik, tapi ternyata tidak cukup umur-_-

 --------------------------------------------------------------------------- 

Inggi (Ingriani Nopitasari, 14 November 1995)

Inggi atau yang biasa gue panggil mba inggi ini putri salju loh.
mba inggi ini hobinya kegerahan, makanya gak bisa jauh dari kipas-_-
bagi yang baru liat inggi pasti pada ngejudge "ih jutek banget"
emang sih, muka mba inggi mah judes, tapi hatinya ramah loh :D
perempuan bercita-cita jadi pramugari ini orangnya friendly abis walau agak moody sih.
mba inggi demen banget sama Crishtian Sugiono & Rezky Aditya loh.

 --------------------------------------------------------------------------- 

Sapi (Savira Meilani, 9 Mei 1995)

Sahabat gue yang satu ini hobinya tidur-_-
entahlah, mungkin karena jarinya abis ketusuk jarum jadinya tidur mulu.
yaaaah kayak aurora gitulah wkwk.
Dia inih, paling tomboy, paling gampang berubah-berubah,
paling setia sama yang di banten.
Apa ya cita-citanya? gaktau :(

---------------------------------------------------------------------------  

Utik (Erin Mutika, 17 Juli 1995)
utik ini temen baru gue. anak baru waktu kelas 3.
temen sebangku gue. tapi udah ngerasa klop aja :D
anaknya heboooooooh, pencinta kucing, ekspresinya kocak.
baweeeeeeel banget deh anak ini. hobi ngaminin harapan gue :D
yahh walaupun baru kenal tapi udah ngerasa akrab banget deh.
dia juga hobi jalan sendirian-_-

---------------------------------------------------------------------------   
Pute (Futuwwah Hasanah, 26 September 1995)

Nah, kalo ini gue wahahaha :D

 ---------------------------------------------------------------------------   

Ini sahabatku, mana sahabatmu? ˆʃƪ)

Selasa, 26 Maret 2013

Argumen: Ketidakjujuran dalam UN

Hai! :D Kayanya gue udah lama yah ga posting disini hihihi :$
Pada postingan gue kali ini, gue cuma mau merenung, mencurahkan unek-unek gue, berpendapat, berargumen. Tentang...... kejujuran? Setiap orang berhak untuk berargumen kan? Jadi, inilah argumen gue...
Sebelumnya maaf, tolong kalo mau judge itu yang objektif, dan mari kita berfikir positif..

Hmm, gue tau hal kayak gini pasti bakal terjadi di saat ujian nasional udah deket. Yaaaa as you know lah.. Pasti ada lah yang gak jujur dalam hal ini. Gue sih gak mau ngusik-ngusik mereka yang mau nyoba untuk curang. Itu hak mereka kalo mereka emang mereka melakukan hal itu, tugas kita yang kontra adalah ngingetin mereka. Tapiiiiii kalo mereka yang diingatkan malah mangkak. ngedumel, marah-marah, atau justru masuk kuping kanan keluar kuping kiri yaudah, terserah mereka. Kalo teguran dari kita mereka acuhkan, biar aja Allah yang menegur mereka. Toh gue yakin Allah itu adil. Mungkin di dunia hidup mereka masih baik-baik aja, tapi gue percaya kok di akhirat nanti mereka bakal di suruh mempertanggungjawabkan apa yang mereka lakuin. Allah maha adil cooooy, maha melihat, maha bijaksana.

Sebenernya sih gue pribadi gak marah sama mereka yang gak jujur dalam UN. Coba deh, kalo dipikir-pikir gak jujur itu terjadi dalam banyak hal. Dan gue yakin lo semua pasti pernah yang namanya gak jujur, ya gue sendiri disini sebagai penulisnya pernah ngerasain yang namanya gak jujur. Ada gak jujur dalam jawab pertanyaan, gak jujur saat ngakuin pernah ngelakuin kesalahan, ataupun gak jujur dalam mengerjakan soal-soal ujian, dan masiiiiiih banyak lagi. Tapi alhamdulillah, walaupun gue mengakui gue ulangan harian masih suka tanya-tanya temen, dan kalian juga pasti pernah dong, tapi yang namanya UJIAN NASIONAL, gue sama sekali gak berani untuk nanya atau nyontek. Jangankan nyontek atau nanya temen, nengak-nengok aja gue gak berani. Bukannya takut sama pengawas, tapi gue takut karena ada Allah yang selalu ngeliat apa yang setiap umatnya perbuat. Dan juga gue gak mau yang namanya dibilang anak "gak tau diri".

Kenapa kayak gitu? Nih, coba deh renungin diri masing-masing. Kalian sekolah berapa tahun? Biaya sekolah kalian selama ini berapa? Orangtua kalian kerja apa? Asal kalian tau, biaya sekolah kalian itu gak murah! Papa kalian dosen? profesor? buruh? pedagang? direktur? pemilik saham? dokter? guru? wirausahawan? Emang semua itu gak butuh proses hingga papa kalian sampe saat ini jadi kaya gini? Butuh! Setinggi-tingginya pangkat orangtua kalian, sebesar-besarnya penghasilan orangtua kalian, mereka tetep pontang-panting nyari duit buat sekolahin anaknya supaya anaknya kaya ilmu dan kelak bisa memanfaatkan ilmunya itu. Kalian tega ya orangtua kalian kerja banting tulang, terus kalian nadah duit "Pah minta uang dong seginih buat bayar inih," apalagi kalian gak bilang kalo uang itu buat bayar kunci jawaban yang udah kalian beli. Tau diri gak tuh namanya? 3 tahun kalian di SMP atau SMA, terus kalian akhirin gitu aja dengan kunci jawaban? Astaghfirullah.... naudzubillah deeeeeeh saya mah! Gue pribadi ya, gue ikhlas tuh kalo nilai gue nantinya pas-pasan tapi gue lulus dengan jujur dan memanfaatkan ilmu yang diajarin bapak/ibu guru, daripada gue lulus nilai waaaaaw tapi dengan kunci jawaban yang udah gue beli. Awalnya sih emang cuma buat pegangan, tapi akhirnya jadi males belajar dan ngandelin itu kunci. Takut sama 20 paket. Ngapain takut? Emang kalian UN ngerjainnya 20 paket per pelajaran? Enggak kan? Cuma 1 kan? ;;)

Apa ya, bener-bener speechless deh sama orang yang pemikirannya picik kayak gitu. 1 rasa yang gue rasain saat ini, "kasihan". Bukan sama kalian yang curang, tapi sama orangtua kalian. Gue pribadi, gue sama sekali gak tega yang namanya ngecewain orangtua, apalagi dalam hal kayak gini. 3 tahun kalian belajar terus kalian lewatin ujian terakhir yaitu UN dengan nyontek kunci jawaban? Terus buat apa kalian sekolah? Buat apa orangtua kalian pontang-panting nyari duit buat biayain kalian sekolah? Astaghfirullah......

Gila yaaaaa, tega....

"Halah, bilang aja lo gakpunya duit kan buat beli kunci? Miskin sih" Hahahaha, ya ampuuuuuun... Bukan masalah uangnya kali, tapi masalah tega gak teganya kalian nipu orangtua dan hati kalian masing-masing. Gue masih punya hati, alhamdulillah iman gue cukup kuat untuk gak gabung sama orang-orang yang gak jujur itu, padahal kejadian itu ada di depan mata gue dan bahkan gue ditawari. Tidak! Makasih.

Orang yang miskin harta lebih tapi kaya ilmu jauuuuuuuuuuuh lebih baik daripada orang kaya harta tapi miskin ilmu. Dia miskin, tapi dia punya ilmu. Dia bisa tuh manfaatin ilmunya buat kerja & nyari duit. Dia punya alesan buat ngelamar kerja, misal "Saya mahir di bidang ini, saya bisa ini, saya menguasai ini, nilai saya bagus, IPK saya tinggi" dan tentunya perusahaan percaya buat ngangkat dia jadi karyawan disitu, terus kalo kerjanya bagus toh dia naik pangkat dan penghasilan ikut naik. Coba kalo yang kaya, emang bisa cuma ngandelin "Saya orang kaya, orangtua saya pemilik saham disini, uang saya banyak, pangkat ayah saya tinggi," terus giliran ditanya skill apa sih yang kamu punya? "Ga ada," terus ada tuh yang mau nerima dia di perusahaan? Enggak.

Sekali lagi, itu hak kalian untuk jujur atau enggak dalam ujian nasional. Jelas hak kalian. Tapiiiiiii, alangkah baiknya kalian objektif, liaaaat kedepannya nanti kayak apa kalo kalian gak jujur. Dan tentunya, segala perbuatan yang kita lakuin di dunia pastinya akan dimninta pertanggungjawaban nanti di akhirat. Siap-siap aja deh melawan Allah yang maha agung.

Ini argumen gue, apa argumen kalian?

Jumat, 15 Maret 2013

Meski...

Ini aku..
Meski aku jarang membuat kalian bahagia, tapi aku selalu berusaha buat kalian nyaman berada di sampingku..
Ini aku..
Meski aku sering membuat kalian kesal, tapi aku selalu berusaha tersenyum di depan kalian..
Ini aku..
Meski aku bukan teman yang sempurna, tapi aku selalu merasa bahagia yang sempurna saat bersama kalian..
Ini aku..
Meski aku tak mampu menjabarkan apa itu persahabatan, tapi buatku kalian adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki..
Ini aku..
meski aku tak mampu membuat kalian tertawa, tapi aku selalu berusaha agar kalian tertawa, setidaknya untukku..
Ini aku..
Meski mereka meremehkan aku, tapi aku tak pernah henti untuk membuat kalian bangga atas aku..
Ini aku..
Meski aku tidak bisa memberi apa yang kalian mau, tapi aku selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian..
Ini aku..
Meski aku tak mampu lagi membuat kalian tertawa, tapi aku selalu tersenyum saat kalian tertawa tanpa aku..
Ini aku..
Meski aku hanyalah seorang perempuan yang rapuh, tapi aku selalu merasa kuat karena ada kalian..
Ini aku..
Meski aku tak mampu bercerita untuk kalian, tapi kalian akan selalu jadi cerita terindahku..

Aku mencintai kalian, sahabat-sahabatku (˘⌣˘)ε˘`)♥

Senin, 11 Maret 2013

Renungan: Bocah Misterius

Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan.

Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.

Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya. Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya.

Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut. Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan.

Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya. Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga! Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu.

Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga. Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar. "Bismillah.. ." ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini.

Kalau memang bocah itu "bocah beneran" pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu. Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya. "Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?" tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya.

Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman. "Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa," jawab Luqman dengan halus,"apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu.." Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi.

"Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa? Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis? Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal..?! Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian…!?" Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela.

Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar "sangat" menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba. "Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja.

Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri? Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri? Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula. Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami…! Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta?

Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih? Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa? Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi.

Tuan…, jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan 'tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak…." Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan. Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong.

Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. Di tengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman! Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang! Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur.

Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat..

Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak. Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan. Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar.

Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya. Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang.

Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.

What do you think? ;)

Minggu, 17 Februari 2013

galeri pumping (12ps) 2013 sudirman

ini tanggal 16 malem :) 

narsis bareng! 

"keluarga bahagia" wkwk :p 

ini waktu nangkep ikan di kolam, amis banget-_- 

waktunya mandiin saviraaaa :D 

abis nyebur kolam bareng 

menjelang mandi di kali :D 

ini waktu mandi massal di kali loh! 

karena ninis lagi masak akhirnya ninis makan disuapin afni, sweet banget 

 nyonya dhodi lagi masak nasi nih 

saviraaaaaaa 

love! 

i love you! 

anak baru & inggi 

16 dari 37 

istirahat sejenak sambil narsis 

dua sejoli, upin dan ipin 

ninis booooooooyen! wkwk 

cucuuuuung 

nyonya andri dan nyonya dhodi 

yoyon! kakaknya kayla 

keluarga mini 

emak anak wkwk 

lagi mau nyuapin erin-_- 

cebar-cebur main aer wkwk 

amisnyaaaaa abis ngobak di kolam 

hihihihi 

kasihan yaaaa 

lucu yaaaaaa!!! tebak gue yang mana :p 

para lelaki-_-

Senin, 04 Februari 2013

Teruntuk teman-temanku XII Perbankan Syari'ah

Sahabat....
Waktu terus berjalan, menggulirkan masa-masa sulit dan indah yang telah kita lewati bersama..
Tak henti memori otakku merekam kebahagiaan dari kelas kecil kita yang penuh dengan keramaian..

Ingatkah kalian?
2 tahun silam, di kelas X Perbankan Syariah kita saling mengenal, saling menyapa, dan saling pendekatan..
Kelas yang berada di lantai 3 gedung sekolah kita..
Kelas yang mempertemukan kita..
Kelas yang menyatukan kita..

Dan 1 tahun silam, di kelas XI Perbankan Syariah kita lewati masa naik turun pertemanan kita..
Masa dimana adanya perang dingin diantara kita..
Masa dimana kita melewati hukuman menulis 100kali bersama..
Masa dimana kita saling berteriak saat pentas seni diadakan..
Masa dimana kita saling merangkai kenangan indah saat study tour ke Jogja..

Dan kini, waktu kita hanya beberapa saat lagi..
Beberapa saat lagi menikmati kehangatan kelas XII Perbankan Syariah..
Barangkali hanya dalam hitungan minggu..
Ini, adalah tahun terakhir kita bersama dalam kelas yang membentuk keluarga kecil ini..

Iya, keluarga!
Aku, kamu, dan kita!

Sahabat, taukah kalian apa arti dari perjuangan?
Perjuangan adalah saat dimana kita harus mempertahankan sesuatu dan membawanya menuju jenjang yang lebih baik dan lebih indah dari sekarang..

Sekarang mari kita bercermin, dan lihat siapakah yang tergambar disana?
Adakah kamu yang selama ini berjuang untuk mendapat apa yang akan kamu banggakan pada orangtuamu?
Adakah kamu yang optimis dan siap menghadapi segala ujian?
Adakah kamu yang berteriak dengan lantangnya bahwa "AKU BISA"?

Atau justru hanya ada kamu yang pesimis?
Yang kalah sebelum bertanding melawan semua ujian?

Yang mengeluh sebelum mencoba?
Yang meyakinkan dirimu bahwa kamu tidak bisa?

Wake up guys!

Ingat apa itu suggest?
Bagaimana kamu bisa jika kamu berkata tidak bisa?
Bagaimana kamu siap jika kamu pesimis?
Bagaimana kamu sukses jika kamu tidak mau mencoba?
Kesuksesan kitalah yang menentukan.
Sukses adalah pilihan.
Pilihan untuk menang, atau kalah.
Ingat, apa yang kalian suggest-kan itulah yang akan kalian dapatkan.

Berhenti mengeluh.
Berhenti pesimis.
Dan berhenti main-main!

Kukuhkan dan yakinkan hatimu! 
Bulatkan tekadmu! 
Katakan bahwa "AKU BISA"
"AKU PASTI BISA DAN AKU SIAP MENGHADAPI INI SEMUA UNTUK MERAIH SUKSES YANG AKU INGINI! AKU SIAP MEMBUAT AYAH DAN IBU MENITIKKAN AIRMATA BANGGA ATAS APA YANG AKU RAIH! DAN AKU SIAP MENJADI AKU YANG TAK TAKUT GAGAL! AKU BISA KARENA ALLAH YANG MENUNTUNKU, AKU OPTIMIS KARENA AKU YAKIN BAHWA AKU BISA! SUKSES ADALAH HAK SAYA!"


Teman-teman, aku menulis ini bukan untuk keegoisanku, tetapi untuk kalian. Sebelumnya, izinkan aku untuk meminta maaf pada kalian. Maaf karena aku tak mampu untuk bicara. Aku hanya mampu untuk menulis ini. Aku lelah mendengar kalian yang selalu mengeluh! Aku lelah dengan kalian yang selalu protes! Untuk apa kita marah? Untuk apa kita protes? Semua tidak akan merubah keadaan! Kita hanya perlu berusaha, optimis, tawakal, dan tak lupa berserah pada Allah SWT. Apa kalian lupa dengan komitmen kelas yang tertempel di dinding dalam kelas kita? Lalu untuk apa kita mengeluhkan keadaan jika komitmen tersebut sudah jelas dari awal kita tanamkan untuk diri kita? We can do it guys! We can do it! Bismillahir rahmaanir rahiim... O:)