CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Selasa, 16 Oktober 2012

my mom, my angel, my everything



Selasa, 09 Oktober 2012

thanks for all :)


Dari ibu yang sangat gue sayangi:
“SWEET SEVENTEEN”
Slamat ulang tahun yg k’17 ya syng anak ibuuuu……
“emmwuaaaaaaachh…..Pajang umur n sehat slalu.
Skrg umur puput udh 17 thn n udh dewasa, ibu brharap smoga puput makin dewasa dlm sgala hal, trmasuk dlm hal brpikir n menilai sgala hal apapun yg tntu’a akan puput hadapi dlm prjalanan hidup puput.
Ibu jg brdoa,smoga smua cita2 puput trcapai,jd anak yg sukses dunia n jg akhirat. Amin……..

Dari sahabat gue, inggi:
Happy birthday and happy sweet seventeen,
*semoga panjang umur .
*apa yang diinginkan tercapai .
*lulus dgn hasil yg memuaskan , masuk ptn ,
*bisa bahagiain orang tua ,
*jangan marah marah mulu,
*longlast sama ryan amin ˘)ε˘`). :-p

Dari mybf ryan:
:* :* :* :* :* :* :* :* :* :* :* :* :* :* :* :* :*

Dari sahabat gue, afni:
Happy birthday..
Happy sweet seventeen..:)

met milad beh..
barakallahu fii umrik..
smoga apa yg d inginkan bisa tercapai,,lbih dewasa,,wish you all the best,,langgeng sama Ryan..aamiin :)

Dari sahabat gue, ninis:
happy birthday
happy birthday
happy birthday puput , semoga jadi lebih baik :) tambah pinter ,tambah sayang ortu, tambah sabar ,tambah cantik :) , jangan suka ngambek :) happy birthday :)
sorry telat , ketiduran lagi ga enak badan :(

Dari sahabat lama gue, barkah:
Utk seseorang,.
selimut waktu telah berganti pertanda beranjaknya usiamu. Yg harus mampu merubah pola pikirnya, jdi sbuah impian besar yg mampu membuat dunia berkata “inilah engkau”. Sdkt motivasi utk seseorang, smga dia sadar kata yg d buat ini mengandung doa agar insya allah ia senantiasa tetap dalam lindungan-Nya, soleha jdi identitasnya, cerdas jdi bagian dirinya. Maaf mungkin kata yg tepat. Krna aku bkn yg d harapkan berkta seperti ini. Biarpun aku hnya org yg ingin selalu ada saat kmu butuh, tp jga jd org yg d buang jauh2 saat kmu senang. Namun aku tetap ingin jd org yg brkata “HAPPY BIRTHDAY” kpdmu.

Dari mytwins, qori:
Mytwins ;)
Happy birthday yaa . Semoga makin cantik , makin pinter , apa yang diingini tercapai Aamiin :)
Baik-baik ya sama Ryan :D
( ˘з‎(˘˘ ) <3

Dari sahabat yang paaaaaaaling gue sayangi, anggun:
happy birthday to puput . .semoga sehat slalu,panjang umur,bahagia slalu . .
jgn berubah tetep jd puput yg manis,baik,lucu,rame poko.a ++ dch :)

Dari sahabat gue, anita:
Happy birthday puput :D
Smoga tambah plus plus plus ya put,
Wish you all the best yaa :D

Dari memaa:
Puteeeee,happy birthday ya sayang,wish you all the best!
Longlife,keep young&success
aminnnnnO:)






Senin, 08 Oktober 2012

Kenapa? Part 1


Ini adalah kisah tentang seorang gadis yang merasa bahwa hidupnya sangat berbeda dengan hidup mereka. Kisah tentang seberapa besar tanggung jawabnya sebagai seorang kakak. Kisah tentang pengalaman hidup dari perceraian kedua orang tuanya. Kisah tentang ia yang tak mampu mengungkapkan rasa sedihnya kepada siapapun. Kisah tentang ia yang dihadapkan dengan berbagai cobaan yang membuatnya semakin terpuruk dan merasa hidup ini kelam, abu-abu, hampa, dan tidak nyata..
Dengan menginisialkan nama gadis tersebut, aku harap kalian dapat mengerti apa yang ia rasakan. Dan inilah kisahnya..
***
Pagi itu, desember 2009, aku terbangun dari tidurku dan mendengar kedua orang tuaku sedang membicarakan sesuatu yang sepertinya nampak serius. Aku yang pada saat itu tidak mengerti apa yang terjadi langsung keluar kamar dan menghampiri kedua orang tuaku. Mereka menatapku dengan wajah teramat penuh beban.
“Ren, ibu pengen ngomong sama Rena,” ucap ibu dengan hati-hati saat aku duduk dihadapan ayah dan ibu.
“Rena kan udah gede, Rena pasti ngerti semua ini ketimbang kak Mia yang lebih tua dari kamu. Hubungan ibu sama ayah udah ga bisa lagi di pertahanin. Ibu udah ga kuat tinggal sama ayah. Ibu ngomong ini ke kamu karena ibu fikir pemikiran kamu lebih dewasa daripada pemikiran kakak kamu. Ibu harap kamu ngerti. Ibu dan ayah cerai bukan berarti ibu ga sayang sama kalian, tapi karena ibu bener-bener udah ga tahan sama semua ini. Ibu udah ngerasa ga tahan gini sejak dulu Ren, tapi ibu pertahanin ini semua buat anak-anak ibu. Dan sekarang udah puncaknya banget ibu ngerasa ga kuat nahan semua ini,” jelas ibu perlahan.
“Kenapa?” aku bertanya dalam hati karena tak mampu bertanya langsung.
“Ren, kamu pasti ngerti dan ngerasain apa yang ibu kamu rasain ini. Ayah sama ibu cerai bukan berarti kalian ga akan lagi kumpul bareng sama ibu ataupun ayah. Ayah ngasih tau kabar ini duluan karena ayah rasa pemikiran kamu lebih dewasa. Kamu sendiri kan tau kalo ka Mia pemikirannya masih anak-anak dan ga bisa di ajak serius. Tolong kasih tau ka Mia pelan-pelan ya..” ayah melanjutkan pembicaraan ibu.
“Kenapa bu? Kenapa yah? Terus nanti Rena ikut siapa?” pelupuk mataku mulai menampung  butiran air mata yang hendak menetes, namun dengan sekuat tenaga aku menahan air mata tersebut. Aku tak ingin menangis dan terlihat lemah.
“Tolong Rena ngertiin ibu, Rena kan udah gede. Tolong juga Rena bilangin pelan-pelan ke kak Mia tentang perceraian ini,” ibu memohon, menatap mataku, dan aku melihat butir-butir air mata itu jatuh membasahi pipinya yang cantik. Sungguh akupun rasanya ingin menangis sekejar-kejarnya, namun seperti yang aku bilang, aku tak ingin terlihat lemah.
Ayah mengelus rambutku dan mencium keningku. “Kuatkan hatimu nak,” ucapnya.
“Udah ya Rena mau mandi dulu,” aku mengalihkan pembicaraan dan melangkah pergi meninggalkan mereka. Dengan butir-butir air mata yang membasahi pipiku tanpa sepengetahuan mereka.
“Kenapa ya Allah? Kenapa?” batinku. Membantah kenyataan dengan sejuta pertanyaan ‘kenapa’ yang terus mengusik pikiranku.
***
“Kak,” ucapku membuka pembicaraan pada saat menemani kak Mia ke counter pulsa.
“Hmm,” ucapnya acuh.
“Dulu Rena pernah kepikiran kalo ayah sama ibu cerai. Dan sekarang jadi kenyataan. Kakak mau ikut siapa?” aku bertanya dengan sangat hati-hati.
“Maksudnya?”
“Iya, beberapa hari yang lalu ayah sama ibu bilang kalo mereka mau cerai. Kalo kakak bisa milih, kakak milih ikut siapa?”
“Kakak mau ikut ibu aja Ren,”
“Rahma pasti ikut ibu juga ya,” ucapku pelan.
“Pasti. Tau sendiri kan Rahma deket banget sama ibu. Emang Rena mau ikut siapa?”
“Kalo ka Mia sama Rahma ikut ibu, berarti Rena ikut ayah. Rena gak mungkin ninggalin ayah sendirian, nanti ayah siapa yang ngurusin? Nanti kakak sering-sering main ke rumah ya,” ucapku getir. “Oh iya, jangan sampe Rahma tau ya ka,” lanjutku.
***
Ya, semenjak mendengar kabar itu, hidupku kini menjadi lebih berat. Broken home, ya, itulah status keluargaku nanti, esok, lusa, dan selamanya. Aku tidak akan merasakan hangatnya rumah yang harmonis lagi. Aku hanya bisa menghibur diri, berpikiran bahwa semua akan baik-baik saja, tidak akan ada yang berubah dalam hidup ini. Aku akan tetap menjalani hidup ini seperti biasa, seperti layaknya anak-anak lain yang keluarganya harmonis.
Hingga pada suatu malam, saat ibu sedang memindahkan baju-bajunya ke sebuah koper yang tergeletak di sampingnya. “Ibu mau kemana,” tanya Rahma.
“Ibu mau pulang kampung Ma, aki lagi sakit, minta di temenin sama ibu,” ucapnya bohong.
“Sampe kapan bu?” tanyanya lagi.
“Ya, sampe aki sembuh,”
“Ikut bu,” ucapnya penuh harap dengan suara yang bergetar menahan tangis.
“Kan Rahma besok sekolah, kapan-kapan aja ya,” bujuk ibu. Rahma mulai menangis.
Aku yang mendengar ibu menangis membujuk Rahma agar tidak ikut ibu ke kampung yang sebenarnya itu adalah sandiwara dari perceraian ibu dan ayah agar Rahma tidak mengetahui hal tersebut meneteskan air mata, merasakan kesedihan tramat dalam disini, di rumah ini, dan di hati ini.
“Udah, besok ibu anterin Rahma ke sekolah ya,” ibu mencium kening Rahma.
Esoknya, seperti yang dijanjikan ibu, ibu mengantar Rahma ke sekolah. Ibu sempat berbicara kepada wali kelas Rahma tentang perceraian ini, berharap wali kelasnya mengerti dan menghibur Rahma. Ibu bilang, Rahma menangis saat ibu hendak pulang.
“Bu, maafin Ade ya. Maafin ade yang ga bisa pertahanin ini semua. Ibu jaga diri ya, Ade titip anak-anak Ade,” ibu pamit pada nenek. Aku hanya terdiam menahan tangis saat ibu terisak memeluk nenek yang sedang menangis kejar, meratapi keberangkatan ibu.
“Sabar Ren,” hibur ka Lia, sepupuku yang pada saat itu sedang menginap dirumahku bersama nenek.
“Ren. Mia, sini. Ibu mau berangkat,” ibu memanggil kami.
“Maafin ibu ya, kalian jaga diri kalian baik-baik. Jangan sedih ya. Ibu pasti bakal sering-sering nengokin kalian. Kalian bisa nginep di tempat ibu nanti pas ibu udah pulang dari kampung. Jaga Rahma ya, ibu titip Rahma,” Ibu terisak dan memeluk aku dan ka Mia yang juga menangis kejar.
“Li, Bude titip anak-anak bude ya,” ucapnya pada ka Lia.
“Iya bude, hati-hati ya bude,” ucap ka Lia.
“Udah ya, ibu berangkat dulu. Kalian jangan nangis,” ibu terbangun dari duduknya dan melangkah keluar rumah diiringi dengan ayah yang membawakan koper ibu. Ayah mengantar kepulangan ibu ke rumah kedua orang tuanya di Cianjur.
“Ibuuu,” ucapku terisak, melepas keberangkatan ibu yang mulai membuka pagar rumah.
“Ibuuuu,” ka Mia terisak.
Aku menatapi kepergian ibu, menatapnya dari luar rumah hingga ibu dan ayah hilang di ujung jalan. Aku malangkah menuju kamar dengar airmata yang berlinang. Ka Mia duduk di ruang tamu dan terisak.
“Udah put, jangan nangis lagi,” ka Lia mengusap lengan kananku.
“Ibu ka, ibu,” aku menangis sejadi-jadinya.
***