CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Selasa, 26 Maret 2013

Argumen: Ketidakjujuran dalam UN

Hai! :D Kayanya gue udah lama yah ga posting disini hihihi :$
Pada postingan gue kali ini, gue cuma mau merenung, mencurahkan unek-unek gue, berpendapat, berargumen. Tentang...... kejujuran? Setiap orang berhak untuk berargumen kan? Jadi, inilah argumen gue...
Sebelumnya maaf, tolong kalo mau judge itu yang objektif, dan mari kita berfikir positif..

Hmm, gue tau hal kayak gini pasti bakal terjadi di saat ujian nasional udah deket. Yaaaa as you know lah.. Pasti ada lah yang gak jujur dalam hal ini. Gue sih gak mau ngusik-ngusik mereka yang mau nyoba untuk curang. Itu hak mereka kalo mereka emang mereka melakukan hal itu, tugas kita yang kontra adalah ngingetin mereka. Tapiiiiii kalo mereka yang diingatkan malah mangkak. ngedumel, marah-marah, atau justru masuk kuping kanan keluar kuping kiri yaudah, terserah mereka. Kalo teguran dari kita mereka acuhkan, biar aja Allah yang menegur mereka. Toh gue yakin Allah itu adil. Mungkin di dunia hidup mereka masih baik-baik aja, tapi gue percaya kok di akhirat nanti mereka bakal di suruh mempertanggungjawabkan apa yang mereka lakuin. Allah maha adil cooooy, maha melihat, maha bijaksana.

Sebenernya sih gue pribadi gak marah sama mereka yang gak jujur dalam UN. Coba deh, kalo dipikir-pikir gak jujur itu terjadi dalam banyak hal. Dan gue yakin lo semua pasti pernah yang namanya gak jujur, ya gue sendiri disini sebagai penulisnya pernah ngerasain yang namanya gak jujur. Ada gak jujur dalam jawab pertanyaan, gak jujur saat ngakuin pernah ngelakuin kesalahan, ataupun gak jujur dalam mengerjakan soal-soal ujian, dan masiiiiiih banyak lagi. Tapi alhamdulillah, walaupun gue mengakui gue ulangan harian masih suka tanya-tanya temen, dan kalian juga pasti pernah dong, tapi yang namanya UJIAN NASIONAL, gue sama sekali gak berani untuk nanya atau nyontek. Jangankan nyontek atau nanya temen, nengak-nengok aja gue gak berani. Bukannya takut sama pengawas, tapi gue takut karena ada Allah yang selalu ngeliat apa yang setiap umatnya perbuat. Dan juga gue gak mau yang namanya dibilang anak "gak tau diri".

Kenapa kayak gitu? Nih, coba deh renungin diri masing-masing. Kalian sekolah berapa tahun? Biaya sekolah kalian selama ini berapa? Orangtua kalian kerja apa? Asal kalian tau, biaya sekolah kalian itu gak murah! Papa kalian dosen? profesor? buruh? pedagang? direktur? pemilik saham? dokter? guru? wirausahawan? Emang semua itu gak butuh proses hingga papa kalian sampe saat ini jadi kaya gini? Butuh! Setinggi-tingginya pangkat orangtua kalian, sebesar-besarnya penghasilan orangtua kalian, mereka tetep pontang-panting nyari duit buat sekolahin anaknya supaya anaknya kaya ilmu dan kelak bisa memanfaatkan ilmunya itu. Kalian tega ya orangtua kalian kerja banting tulang, terus kalian nadah duit "Pah minta uang dong seginih buat bayar inih," apalagi kalian gak bilang kalo uang itu buat bayar kunci jawaban yang udah kalian beli. Tau diri gak tuh namanya? 3 tahun kalian di SMP atau SMA, terus kalian akhirin gitu aja dengan kunci jawaban? Astaghfirullah.... naudzubillah deeeeeeh saya mah! Gue pribadi ya, gue ikhlas tuh kalo nilai gue nantinya pas-pasan tapi gue lulus dengan jujur dan memanfaatkan ilmu yang diajarin bapak/ibu guru, daripada gue lulus nilai waaaaaw tapi dengan kunci jawaban yang udah gue beli. Awalnya sih emang cuma buat pegangan, tapi akhirnya jadi males belajar dan ngandelin itu kunci. Takut sama 20 paket. Ngapain takut? Emang kalian UN ngerjainnya 20 paket per pelajaran? Enggak kan? Cuma 1 kan? ;;)

Apa ya, bener-bener speechless deh sama orang yang pemikirannya picik kayak gitu. 1 rasa yang gue rasain saat ini, "kasihan". Bukan sama kalian yang curang, tapi sama orangtua kalian. Gue pribadi, gue sama sekali gak tega yang namanya ngecewain orangtua, apalagi dalam hal kayak gini. 3 tahun kalian belajar terus kalian lewatin ujian terakhir yaitu UN dengan nyontek kunci jawaban? Terus buat apa kalian sekolah? Buat apa orangtua kalian pontang-panting nyari duit buat biayain kalian sekolah? Astaghfirullah......

Gila yaaaaa, tega....

"Halah, bilang aja lo gakpunya duit kan buat beli kunci? Miskin sih" Hahahaha, ya ampuuuuuun... Bukan masalah uangnya kali, tapi masalah tega gak teganya kalian nipu orangtua dan hati kalian masing-masing. Gue masih punya hati, alhamdulillah iman gue cukup kuat untuk gak gabung sama orang-orang yang gak jujur itu, padahal kejadian itu ada di depan mata gue dan bahkan gue ditawari. Tidak! Makasih.

Orang yang miskin harta lebih tapi kaya ilmu jauuuuuuuuuuuh lebih baik daripada orang kaya harta tapi miskin ilmu. Dia miskin, tapi dia punya ilmu. Dia bisa tuh manfaatin ilmunya buat kerja & nyari duit. Dia punya alesan buat ngelamar kerja, misal "Saya mahir di bidang ini, saya bisa ini, saya menguasai ini, nilai saya bagus, IPK saya tinggi" dan tentunya perusahaan percaya buat ngangkat dia jadi karyawan disitu, terus kalo kerjanya bagus toh dia naik pangkat dan penghasilan ikut naik. Coba kalo yang kaya, emang bisa cuma ngandelin "Saya orang kaya, orangtua saya pemilik saham disini, uang saya banyak, pangkat ayah saya tinggi," terus giliran ditanya skill apa sih yang kamu punya? "Ga ada," terus ada tuh yang mau nerima dia di perusahaan? Enggak.

Sekali lagi, itu hak kalian untuk jujur atau enggak dalam ujian nasional. Jelas hak kalian. Tapiiiiiii, alangkah baiknya kalian objektif, liaaaat kedepannya nanti kayak apa kalo kalian gak jujur. Dan tentunya, segala perbuatan yang kita lakuin di dunia pastinya akan dimninta pertanggungjawaban nanti di akhirat. Siap-siap aja deh melawan Allah yang maha agung.

Ini argumen gue, apa argumen kalian?

Jumat, 15 Maret 2013

Meski...

Ini aku..
Meski aku jarang membuat kalian bahagia, tapi aku selalu berusaha buat kalian nyaman berada di sampingku..
Ini aku..
Meski aku sering membuat kalian kesal, tapi aku selalu berusaha tersenyum di depan kalian..
Ini aku..
Meski aku bukan teman yang sempurna, tapi aku selalu merasa bahagia yang sempurna saat bersama kalian..
Ini aku..
Meski aku tak mampu menjabarkan apa itu persahabatan, tapi buatku kalian adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki..
Ini aku..
meski aku tak mampu membuat kalian tertawa, tapi aku selalu berusaha agar kalian tertawa, setidaknya untukku..
Ini aku..
Meski mereka meremehkan aku, tapi aku tak pernah henti untuk membuat kalian bangga atas aku..
Ini aku..
Meski aku tidak bisa memberi apa yang kalian mau, tapi aku selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian..
Ini aku..
Meski aku tak mampu lagi membuat kalian tertawa, tapi aku selalu tersenyum saat kalian tertawa tanpa aku..
Ini aku..
Meski aku hanyalah seorang perempuan yang rapuh, tapi aku selalu merasa kuat karena ada kalian..
Ini aku..
Meski aku tak mampu bercerita untuk kalian, tapi kalian akan selalu jadi cerita terindahku..

Aku mencintai kalian, sahabat-sahabatku (˘⌣˘)ε˘`)♥

Senin, 11 Maret 2013

Renungan: Bocah Misterius

Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan.

Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.

Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya. Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya.

Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut. Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan.

Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya. Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga! Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu.

Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga. Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar. "Bismillah.. ." ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini.

Kalau memang bocah itu "bocah beneran" pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu. Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya. "Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?" tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya.

Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman. "Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa," jawab Luqman dengan halus,"apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu.." Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi.

"Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa? Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis? Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal..?! Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian…!?" Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela.

Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar "sangat" menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba. "Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja.

Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri? Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri? Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula. Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami…! Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta?

Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih? Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa? Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi.

Tuan…, jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan 'tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak…." Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan. Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong.

Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. Di tengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman! Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang! Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur.

Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat..

Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak. Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan. Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar.

Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya. Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang.

Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.

What do you think? ;)