CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Minggu, 12 Juni 2016

Kenang yang Menggenang

Kenang itu selalu ada, menjelma kedalam pedih yang membuatku tak pernah lupa bagaimana cara menahan sakit.
Mengapa waktu tak jua memberiku kesempatan untuk tau tentang apapun yang semestinya aku tau?
Ingin rasanya aku berlari, menelusuri ruang yang mampu menjawab semua tanda tanya ini.
Penat.
Rindu.
Benci.
Kecewa.
Semua menyatu, mengalir dalam darahku tanpa kenal rasa iba.
Hampir menyerah aku menghadapi takdir, berat rasanya.
Apa aku harus terdiam? Atau beranjak?
Haruskah aku 'lari ke hutan lalu ke pantai' seperti kata puisi Rako Prijanto?
Inikah nasib dari anak yang hidup dalam keluarga yang terpecahbelah?
Rasa tak sanggup aku membelokkan garis yang telah Tuhan tetapkan, berharap keajaiban datang membawa kabar bahagia.
Lelah aku menahan ego sendiri demi ego orang lain, seperti semata ingin mengalah pada sebuah rasa sakit.
Muak aku.
Lalu kepada hujan airmata aku berterimakasih, sebab karenanya hatiku mampu lebih lega menghadapi kenyataan yang pahit meski harus menyisakan kenang.
Kenang yang menggenang, antara rindu, benci, juga keputus-asaan..

Kamis, 09 Juni 2016

Untukmu

Izinkan aku merindumu sejenak.
Sayang, beri aku celah agar rindu ini dapat dengan baik menelusuri jiwa yang tak lepas oleh tentangmu.
Aku merindukan setiap kenangan yang kita sisakan dalam jejak perjalanan hidup ini.
Bukankah akan ada begitu banyak kenang yang nantinya akan kita ingat bahwa kebahagiaan adalah kita yang menciptakan?
Ada jemari yang tak kuasa menahan rasa untuk menulis sesuatu yang tak mampu ku ucap, meski aku sadar bahwa aku bukan penyair yang mahir bersajak, bukan pula penulis handal yang mampu menyisakan makna dalam dibalik tiap-tiap kalimat yang dituliskan.
Ahh sudahlah, aku memang tak pandai merangkai kata.
Hei sayang, lihat aku, lihatlah usahaku, jangan pernah ragukan aku.
Aku percaya bahwa setiap orang dapat membawa kebahagiaan di hidup oranglain, sebagaimana kamu yang selalu membawa kebahagiaan dalam hidupku, begitu pula sebaliknya, tentang keinginanku untuk membawa kebahagiaan dalam hidupmu.
Ada rasa yang ingin aku katakan kepadamu, tetapi cukup kusimpan dalam hati, sebab kamu lebih tau bahwa aku begitu mencintaimu tanpa perlu lisan ini untuk berucap.
Ketahuilah, ada namamu dalam setiap sujudku di hadapNya, memohon untuk kamu digariskan hanya untukku.
Penuh harap diri ini meminta kepada Yang Maha dari segala Maha, agar kamulah kelak yang menemaniku menghabiskan sisa hidupku..

Jumat, 14 November 2014

Tentang Aku yang Merindukanmu, Ayah

Ini tentang aku Ayah, tentang aku yang merindukanmu setiap hari.
Tentang aku yang kebingungan entah dengan cara apa agar aku mendapat perhatianmu.
Tentang aku yang tidak mengerti apa saja kesibukanmu sehingga engkau jarang memiliki waktu luang untuk sekedar duduk santai dan  bertukar cerita denganku, membicarakan kegiatanku di kampus, atau membagi ceritamu tentang apa yang setiap harinya engkau sibukkan.
Tentang aku yang selalu iri dengan teman-temanku yang ayahnya selalu menyempatkan waktu luang untuk mengobrol dengan anak-anaknya.

Ini bukan sekedar tentang aku dan keegoisanku yang selalu ingin bersamamu layaknya masa kecilku yang indah dulu, tetapi tentang seorang anak yang haus akan perhatian orangtuanya.
Tentang seorang anak yang setiapharinya merindukan kehadiranmu.
Tentang seorang anak yang mengharapkan waktu luangmu.
Tentang seorang anak yang selalu ingin dekat dengan ayahnya.

Ayah, jikalau engkau setiapharinya sibuk dengan ibu tiriku dan kakak-kakak tiriku, lalu dengan siapa aku dan kakak serta adik kandungku menghabiskan waktu bersama?
Raga kami dengan ibu kandung kami jauh yah, kami tak bisa dengan cepat menghampirinya lalu meminta secuil perhatian yang seharusnya kami dapat dari engkau.
Mengertilah ayah, bahwa kami terlebih aku sangat merindukanmu.
Mengertilah, bahwa kami membutuhkanmu untuk ada disamping kami.
Kakak-kakak tiriku itu lelaki yah, aku yakin mereka bisa menjaga diri, apalagi umur mereka bukan 'anak kemarin sore' lagi.
Sedangkan kami perempuan, walaupun kami masih bisa menjaga diri, tapi pada dasarnya kami tetap anak perempuanmu yang teramat sangat membutuhkan perlindungan darimu agar kami selalu merasa 'aman'.
Mengertilah yah, saat kami ingin engkau ada disini untuk berkumpul bersama agar makna 'keluarga' tidak hilang didalam rumah yang dulunya hangat ini.
Mengertilah, disini ada kami yang menutupi kesedihan kami yang merindukan ayahnya sendiri, padahal kami tinggal satu atap denganmu, tapi mengapa kami tidak merasakan hangatnya sentuhan kasihmu di rumah ini yah?

Oh iya, ayah tau tidak, bahwa saat aku pulang kuliah, rumah sangat terasa kosong.
Aku merasa kesepian yah, aku takut, bahkan aku diam-diam hampir setiap hari menutupi muka dengan bantal di kamar lalu menangis sampai tersedu-sedu.
Saat di rumah tidak ada makanan dan tidak ada bahan makanan yang bisa aku masak, aku dengan sigap masuk ke kamar, lalu memaksakan untuk tidur dengan harapan aku lupa akan rasa laparku.
Hmmm, satu lagi, aku memendam ini sejak lama yah.
Aku pikir aku bisa untuk selalu memendam perasaan yang membuat sesak ini sendirian, tapi ternyata aku tidak bisa yah.
Aku butuh teman untuk berbicara, teman yang memuatku lupa akan rasa sesak yang kian mencekam ini.

Iya yah, aku butuh 'teman'. Teman untuk berbagi.
Dan aku sudah mendapatkannya yah.
Ia selalu menyemangatiku, memarahi aku saat aku malas belajar, mengingatkanku untuk tetap menjaga kesehatanku, mengajakku solat, bahkan ia tak pernah lupa menegaskan kepadaku bahwa aku harus bisa membuat ayah bangga karna ayah memiliki aku, juga untuk selalu menuruti apa yang ayah bilang.
Tapi kenapa ayah menyuruhku menjauhinya? Sementara perhatian yang aku butuhkan darimu selalu aku dapatkan darinya.
Ia anak yang baik yah, percayalah padaku. Aku tidak mungkin dekat-dekat dengan orang yang membawa pengaruh negatif untuk hidupku. Dan aku tidak akan melakukan hal buruk yang sekiranya dapat merusak nama baikmu, aku tidak sebodoh itu ayah.

Ayah, mengertilah bahwa aku sangat membutuhkan sedikit dari waktu yang engkau punya.
Percayalah bahwa aku akan selalu menjaga diri dan menjaga nama baikmu.

Dengarlah sedikit keluhan hati ini yang aku sendiri sudah tak mampu untuk memendamnya sendiri.
Aku ingin kedekatan kita saat aku kecil terulang kembali, aku ingin bernostalgia denganmu, dan aku ingin bermanja-manja denganmu, bahkan aku ingin disuapi makan lagi, seperti dulu, olehmu yah, superman-ku.
Jaga kesehatanmu ya yah, agar aku masih bisa melihat tubuh separuh bayamu, melihat senyummu, menatap mata tulusmu, serta membahagiakanmu.
Do'aku selalu mengalir untukmu yah, dan tak akan pernah berhenti.
Aku mencintaimu, ayah..
Dan aku sangat  merindukanmu.

Kamis, 30 Januari 2014

Hijab Tutorial

Assalamu'alaikum Wr. Wb. ;;)

Hai semua, apa kabar?
Semoga selalu lebih baik dari hari kemarin;;)
Ada yang beda nih dari postingan aku kali ini.
Biasanya kan aku posting berupa tulisan, cerpen, puisi, dsb.
Dan sekarang aku posting hijab tutorial hehe:3
Awalnya sih lagi selfie-selfie, terus iseng buat bikin hijab tutorial.
Dan jadilah seperti ini hohoho
Mungkin sih udah ada yang pake ya?
Tapi ini aku modifikasiin biar gak bosen;;)
Dan seperti inilah hasilnya:)
Selamat mencoba hijaber♡

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.






Senin, 21 Oktober 2013

Suksesku, Demi Mereka

Suksesku tidak lain tidak bukan akan kupersembahkan untuk Mama. Untuk Mama yang senantiasa tidak pernah terputus mendoakanku siang dan malam. Untuk Mama yang senantiasa berkorban waktu untuk membesarkanku dengan sepenuh hati.
Untuk Mama yang senantiasa membuatkan aku sarapan pagi meski terkadang aku menyisakan sarapan itu karena diburu waktu untuk menuntut ilmu. Untuk Mama yang senantiasa menyetrikakan bajuku meski kadang aku sering memberantakkan tumpukkan baju. Untuk Mama yang selagi kecil tak pernah mengeluh memberiku asi esklusif sehingga aku terlahir dengan sempurna tanpa cacat sedikitpun.
Untuk mama yang tidak pernah kenal lelah memberiku kasih sayang yang tak terbatas waktunya. Untuk Mama.. yang mengandungku selama 9 bulan dan mau berkorban nyawa demi aku terlahir di dunia. Tapi Tuhan tau, Mama seseorang yang hebat. Mama masih diberi kesehatan sampai sekarang. Tuhan masih ingin Mama membesarkan anak sepertiku dengan sabar. 
Ma… Semoga Tuhan memberi kasih melimpah pada Mama.
Maafkan jika sampai detik ini aku masih saja sering menyusahkan Mama. Maafkan jika sampai detik ini aku masih saja belum bisa membanggakan Mama. Maaf jika sampai detik ini Mama masih harus bangun pagi untuk membangunkanku dan menyiapkan aku sarapan.
Ma…. Semoga Tuhan memberi Mama panjang umur selalu.
Aku sedang dalam berjalan menuju suksesku,ma. Aku sedang dalam berjalan menuju menjadi seseorang yang dapat membanggakanmu,ma. Jangan dulu pergi menuju Tuhan sebelum aku sempat membanggakan Mama. Jangan dulu Mama menghadap Tuhan sebelum aku sempat menghadap Mama yang menangis haru melihat kesuksesanku. 
Ma.. Aku sayang padamu,ma. Aku menyayangimu melebihi aku mencintai diriku sendiri,ma. Aku mencintaimu karena aku tahu, daging yang menempel di tubuhku ini adalah bagian dari dagingmu,ma. Darah yang mengalir di tubuhku ini merupakan darahmu,ma. 
Aku percaya bahwa Kesabaranmu, ada mengalir deras di darahku. Aku percaya bahwa aku bisa berkorban demi suksesku berasal dari Jiwa Berkorbanmu yang sekarang ada menempel di tubuhku.
Aku berjanji, suatu saat nanti, aku akan membuatmu bangga. Membuatmu bangga sebagai Mama yang telah melahirkanku. Membuatmu bangga sebagai Mama yang telah membesarkanku. 
Ma.. Aku mencintaimu. 
Suksesku kupersebahkan untuk Papa. 
Untuk Papa yang sering pulang malam karena bekerja demi satu butir nasi yang setiap harinya kumakan. Untuk Papa yang sering pulang malam karena ingin anak istrinya tercukupi kebutuhannya. Untuk Papa yang aku lihat belum punya baju baru saat lebaran dan ketika kutanya mengapa, Papa hanya jawab; Papa ingin anak-anaknya dulu yang bahagia mendapat baju baru. Untuk papa yang sering marah, padahal itu demi kebaikanku sendiri. Untuk Papa yang sering mengkhawatirkanku padahal papa hanya takut anaknya tertimpa sesuatu yang buruk. Untuk Papa yang selalu diam padahal di setiap doanya selalu menyebut nama anak-anaknya dalam tangis.
Untuk papa yang aku sayangi..
Aku selalu berdoa agar Papa selalu di beri perlindungan..
Aku ingin Papa selalu sehat. Aku ingin Papa selalu pulang dalam keadaan selamat. Aku ingin Papa selalu bisa kubawakan tasnya sepulang Papa kerja. Aku ingin melihat Papa meminum kopi di sela-sela pertandingan bola di tengah malam. Aku ingin menemani Papa melihat acara debat dan memaki pembicara yang padahal aku sendiri tidak tahu isi acara itu.
Aku selalu ingin bersama Papa…
Papa yang selalu diam. Papa yang selalu keras. Aku tahu kenapa Papa seperti itu. Papa mengalami kejamnya dunia setiap hari di luar sana hanya demi membelikanku buku untuk aku menuntut ilmu. Papa diterjang hujan dan panas di luar sana hanya untuk memberiku uang untuk aku dapat terus bersekolah.
Aku ingin Tuhan memberikan Papa umur yang panjang.
Agar Papa bisa lihat bahwa anak bandel sepertiku, bisa menjadi seseorang yang dapat Papa banggakan. Agar Papa bisa datang ke acara wisudaku dan melihatku menyelesaikan studiku dengan sempurna. Agar Papa bisa mengantarku ke airport untuk mengantarku belajar S2 di luar negeri sana. Agar Papa bisa melihatku menggunakan pakaian kerja yang anggun/gagah dan Papa bisa melihat bahwa anak kesayangannya bisa terlihat rapih dan berwibawa. 
Aku ingin Papa menjadi saksi dihari nanti ketika aku bersanding dengan pilihanku. Aku ingin Papa menjadi saksi ketika aku dan dia mengucap janji suci di hadapan Tuhan. Aku ingin Papa yang pertama kali menggendong anak-anakku kelak. Aku ingin Papa. 
Papa. Maafkan aku yang belum bisa membahagiakan Papa. 
Belum bisa membuat Papa tersenyum, yang ada hanya merepotkan dan menyusahkan Papa. Belum bisa membuat Papa mencium pipiku bangga, yang ada hanya aku yang selalu membuat masalah.
Tapi yakinlah, Pa. Di dalam daging di tubuhku ini, ada dagingmu. Di dalam darah yang mengalir di tubuhku ini, ada darahmu. 
Sebagian keberanian Papa, menempel di tubuhku. Sebagian ketangguhan Papa, mengalir deras di darahku. 
Suatu hari nanti, aku janji. Aku akan memberikan Papa sebuah kebanggaan meski tak dapat membandingi perasaanku yang bangga memiliki Papa yang hebat sepertimu. 
Suatu hari nanti, aku akan sukses. Aku akan menjadi seseorang. Untuk Papa dan Mama, sekarang aku berjuang.
Karena aku tahu. Perjuanganku tidak berarti apa-apa dibandingkan perjuangan Papa dan Mama membesarkanku selama belasan tahun dan sampai nanti. Pengorbananku tidak berarti apa-apa dibandingkan pengorbanan Mama dan Papa untuk merawatku dari kecil hingga sekarang dan hingga nanti.
Aku menyayangi kalian. Papa, Mama. :)

Jangan!

Jangan. 
Jangan dulu pergi,ma.
Mengandungku selama 9 bulan, bahkan lebih atau kurang. Aku tidak tahu bagaimana rasanya mengandung. Waktu aku membawa tas sekolahku yang beratnya tidak sampai 1 kg, badanku sudah lelah. Aku bisa membayangkan bagaimana rasanya sebuah perut yang sejak gadis kau rawat, membawa sebuah amanah dari Tuhan yang beratnya tak dapat kubayangkan. Menahan sakit karena aku yang terlahir sudah nakal senang menendang-nendang perut mama, padahal itu hanya membuat mama kesakitan. Menahan segala egois memakan makanan yang dilarang dokter hanya demi buah hati terlahir sempurna. Mengorbankan nyawa demi melahirkanku. Membesarkanku tanpa lelah. Terbangun di tengah malam dan menahan sakit ketika menyusuiku. Terbangun di tengah malam dan membersihkan kotoranku di popok-ku. Apalagi ketika aku dengan tidak sadar mengompol di baju barumu, tak ada marah sedikitpun tersirat di wajahmu. Mama membelai wajahku. Tak ada marah sedikitpun. Tak ada keluh sedikitpun. Membangunkanku ketika aku beranjak dewasa. Menyiapkan sarapan untukku. Menyetrikakan seragam sekolahku. Menyisirkan rambutku. Mengambil rapot sekolahku dan bahkan jika prestasiku menurun, mama tidak pernah memarahiku. Ketika aku dengan sengaja menyisakan makananku yang aku tidak pernah tahu bagaimana mama susah payah memasaknya, terkena cipratan minyak panas, terkena air mendidih, aku tidak tahu. Ketika aku pulang malam karena terlalu asyik bermain, mama mencariku, yang aku bahkan tidak tahu mama menangis di rumah menghawatirkan keadaanku di luar sana. Ketika aku pulang membawa orang yang aku sayangi untuk di kenalkan pada mama, aku tidak tahu bahwa mama takut malaikat kecilnya terlalu cepat untuk berpisah dengannya. Ketika aku belajar untuk memutuskan pilihanku dan berdebat denganmu mama, mama selalu mendoakan yang terbaik meski keinginan mama tidak sejalan dengan malaikat kecilnya. 
Mama menyayangiku lebih dari dia mencintai dirinya sendiri. 
Jangan dulu pergi sebelum aku sempat membalas kasih sayangmu,ma…
Jangan dulu pergi,pa. 
Mencari rezeki rupiah demi rupiah. Menerjang teriknya panas dan menembus derasnya hujan. Kau lakukan semua demi anak istrimu. Bahkan ketika papa kutanya mengapa bekerja sekeras itu, papa hanya menjawab ini semua semata-mata demi anak papa. Jagoan kecil papa. Mungkin aku lupa, tapi aku berusaha ingat. Ketika Tuhan memberiku hidup, papa yang pertama kali menitikkan air mata dan membisikkan kalimat-kalimat indah itu ke telingaku(karena aku muslim, papa membacakan aku adzan). Dalam kalimat indah itu, papalah yang berdoa pada Tuhan, meminta agar malaikat kecilnya dapat tumbuh menjadi orang hebat yang berguna bagi orangtua, dan juga orang lain. Aku mungkin lupa, tapi aku ingat. Ketika masih bayi, aku sering sekali mengganggu waktu papa yang sangat lelah sepulang bekerja. Aku menangis, bahkan ketika mama menggendongku, aku tak kunjung berhenti menangis. Ketika papa menggendongku dan papa bernyanyi yang bahkan mungkin suara papa bernyanyi tidak akan lulus di studio rekaman. Suara papa, terdengar merdu. Walau terdengar lelah, papa tidak berhenti bernyanyi sambil berkata anak baik tidak boleh menangis. Tangan papa, suara papa, membuatku tertidur lelap… dalam gendongan papa. Mungkin aku lupa, tapi aku ingat. Papa selalu menyuapiku sarapan, memandikanku, bahkan mengajarkanku memakai baju ketika aku masuk sekolah. Papa juga yang memarahiku ketika aku terjatuh di sepeda. Papa bilang anak pintar tidak boleh menangis. Sekarang aku tahu, Papa mengajarkan aku untuk bisa menjadi manusia yang tangguh, yang tidak mudah menyerah pada tantangan di hidup ini. Papa yang ketika aku menginjak dewasa semakin khawatir kehilanganku. Papa yang selalu menganggapku belum dewasa padahal papa hanya ingin aku terus menjadi malaikat kecil yang meminta papa memangku dan menggendongku. Papa yang selalu menelfonku ketika aku pulang larut dan menanyakan keadaanku. Papa yang semakin tua dan rambutnya semakin putih. Papa yang selalu diam padahal papa setiap doa tidak meluputkan namaku dari doanya. Papa yang setiap harinya memikirkan apa yang dimakan malaikat kecilnya sudah cukup bergizi atau belum.
Jangan dulu pergi, ma. 
Jangan dulu pergi sebelum aku sempat memberi mama bangga yang sedang aku usahakan. Jangan dulu pergi sebelum aku sempat membalas semua kasih sayangmu meski aku tahu aku tidak akan pernah bisa, karena kasih sayangmu sungguh lebih luas dari samudera. Jangan dulu pergi sebelum aku sempat membuat mama tidak marah-marah lagi karena aku malas belajar karena aku sering pulang malam. Jangan dulu pergi sebelum aku sempat mengubah air mata yang sering mama keluarkan karena kesal padaku, menjadi sebuah air mata haru melihatku sukses. Jangan dulu pergi sebelum aku sempat bersujud di kedua kaki mama untuk meminta restu untuk tinggal dengan pasangan pilihanku. Jangan dulu pergi sebelum aku sempat membuat mama bahagia menikmati masa tua. 
Papa, jangan dulu pergi. 
Jangan dulu pergi sebelum aku berhasil menjadi seseorang yang tangguh sepertimu. Jangan dulu pergi sebelum aku berhasil membalas semua letihmu membesarkanku, meski aku tahu letihmu sudah mengering dan tak dapat kubalas dengan apapun. Jangan dulu pergi sebelum jagoan kecilmu ini berubah menjadi seseorang dewasa yang dapat membuat manfaat bagi orang lain sepertimu. Jangan dulu pergi sebelum aku bisa membuatmu yang mencariku setiap waktu karena aku pulang malam, menjadi mencariku karena kau ingin mengenalkan pada relasimu bahwa anakmu tumbuh menjadi seseorang yang sukses. 
Apa yang aku bisa balas pada kalian? Kasih sayang yang kalian berikan, lebih luas dari tata surya. Kasih sayang yang kalian limpahkan, lebih banyak dari pasir di pantai. 
Jangan dulu pergi, ma, pa. 
Tuhan, jangan ambil papa dan mama. 

Selasa, 16 Juli 2013

Terlalu Dini, karya Rahne Putri

Terlalu dini untuk sakit hati..
Ada cerita yang belum siap patah lagi..
Ada malam yang terus menolak sepi..

Terlalu dini untuk tersesat lagi..
Ada langkah yang lelah mencari..
Ada nafas yang terengah dan mengemba di sanubari..

Terlalu dini untuk kehilangan kamu..
Ada damba yang tak ingin lepas..
Ada rindu yang tak ingin kandas..

Ah tapi saat kamu pergi aku juga diam..
Ada pinta yang tak menjadi kata menisankan diri..
Hanya harap kamu berbalik dan kembali dalam hati..

Ia memenjarakanku..
Ketakutan menyergap kepalaku..
Bagaimana cara bertemu kamu?
Harus berjalan atau berlari?
Aku takut kamu terlewat dan aku mencarimu lagi sendiri..



Terlalu Dini, karya Rahne Putri - https://twitter.com/rahneputri

Jumat, 05 Juli 2013

Aku Kalah, karya Zarry Hendrik

Apa orang yang memperlakukanmu dengan begitu baik harus diam-diam menjahatiku?
Kudengar ia orang yang baik, pekerja keras, mau mengalah, rajin beribadah, dan namun diam-diam mengungkapkan peasaannya kepada kekasihku dan itu kau.
Aku kalah. Aku lengah.
Sesaat setelah aku berkedip, kau lenyap.
Kau kekasihku telah direnggut.
Perasaanmu kini terbelah, setengah untuk orang yang begitu baik,
mungkin setengahnya lagi hanya untuk kutanya-tanya.
Aku tidak menyalahkanmu.
Kan kulihat kau bahagia.
Hanya dulu aku dapat melihat hati yang penuh pada sepasang bola matamu.
Sekarang aku kagok oleh karena begitu banyak ketakutan didalamnya.
Aku ingin bertepuk tangan, namun khawatir kau tersinggung.
Apakah ini pertanda untukku meniti hidup yang baru untuk seseorang yang baru?
Aku tidak yakin.
Sebab sampai dihari ini rindu selalu lebih kuat dari kekecewaan.
Aku tidak mau memilih pengganti dengan hati yang hanya memberikan rasa kasihan.
Hati yang menjerit tidak harus selalu menyerukan kesepian.
Biarlah aku sendiri, asal tidak memiliki yang tidak aku cintai.
Ini lebih baik daripada asal-asalan.
Hanya dengar kekasihku..
Jangan karna tau cinta aku begitu besar, cintaku jadi tidak berarti apa-apa.
Kau tau kalau kau mencintaiku.
Namun cintakah yang kau inginkan?
Jika kau bilang kau lebih mencintaiku, lalu untuk diakah sisanya?
Isi hatimu dipertanyakan.
Sekarang bayangkan jika hati kekasihku dicuri orang,
akankah hatinya akan kembali dengan utuh?
Karena siapakah aku yang menjawab tanya sendiri?
Mungkin ini pelajaran bahwa ada juga cinta yang jahat.
Cinta yang mencari celah untuk dapat memisahkan 2 hati yang menyatu.
Aku dan kamu yang dulu pernah menjadi kita.
Baiklah, baiklah..
Biar bumi berputar, waktu berjalan, dan aku terpaku saja akan bayang-bayangmu.
Yang baik selalu menang..
Yang terbaik hanya dikenang..


Aku Kalah, karya Zarry Hendrik - https://twitter.com/zarryhendrik