CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Senin, 21 Oktober 2013

Suksesku, Demi Mereka

Suksesku tidak lain tidak bukan akan kupersembahkan untuk Mama. Untuk Mama yang senantiasa tidak pernah terputus mendoakanku siang dan malam. Untuk Mama yang senantiasa berkorban waktu untuk membesarkanku dengan sepenuh hati.
Untuk Mama yang senantiasa membuatkan aku sarapan pagi meski terkadang aku menyisakan sarapan itu karena diburu waktu untuk menuntut ilmu. Untuk Mama yang senantiasa menyetrikakan bajuku meski kadang aku sering memberantakkan tumpukkan baju. Untuk Mama yang selagi kecil tak pernah mengeluh memberiku asi esklusif sehingga aku terlahir dengan sempurna tanpa cacat sedikitpun.
Untuk mama yang tidak pernah kenal lelah memberiku kasih sayang yang tak terbatas waktunya. Untuk Mama.. yang mengandungku selama 9 bulan dan mau berkorban nyawa demi aku terlahir di dunia. Tapi Tuhan tau, Mama seseorang yang hebat. Mama masih diberi kesehatan sampai sekarang. Tuhan masih ingin Mama membesarkan anak sepertiku dengan sabar. 
Ma… Semoga Tuhan memberi kasih melimpah pada Mama.
Maafkan jika sampai detik ini aku masih saja sering menyusahkan Mama. Maafkan jika sampai detik ini aku masih saja belum bisa membanggakan Mama. Maaf jika sampai detik ini Mama masih harus bangun pagi untuk membangunkanku dan menyiapkan aku sarapan.
Ma…. Semoga Tuhan memberi Mama panjang umur selalu.
Aku sedang dalam berjalan menuju suksesku,ma. Aku sedang dalam berjalan menuju menjadi seseorang yang dapat membanggakanmu,ma. Jangan dulu pergi menuju Tuhan sebelum aku sempat membanggakan Mama. Jangan dulu Mama menghadap Tuhan sebelum aku sempat menghadap Mama yang menangis haru melihat kesuksesanku. 
Ma.. Aku sayang padamu,ma. Aku menyayangimu melebihi aku mencintai diriku sendiri,ma. Aku mencintaimu karena aku tahu, daging yang menempel di tubuhku ini adalah bagian dari dagingmu,ma. Darah yang mengalir di tubuhku ini merupakan darahmu,ma. 
Aku percaya bahwa Kesabaranmu, ada mengalir deras di darahku. Aku percaya bahwa aku bisa berkorban demi suksesku berasal dari Jiwa Berkorbanmu yang sekarang ada menempel di tubuhku.
Aku berjanji, suatu saat nanti, aku akan membuatmu bangga. Membuatmu bangga sebagai Mama yang telah melahirkanku. Membuatmu bangga sebagai Mama yang telah membesarkanku. 
Ma.. Aku mencintaimu. 
Suksesku kupersebahkan untuk Papa. 
Untuk Papa yang sering pulang malam karena bekerja demi satu butir nasi yang setiap harinya kumakan. Untuk Papa yang sering pulang malam karena ingin anak istrinya tercukupi kebutuhannya. Untuk Papa yang aku lihat belum punya baju baru saat lebaran dan ketika kutanya mengapa, Papa hanya jawab; Papa ingin anak-anaknya dulu yang bahagia mendapat baju baru. Untuk papa yang sering marah, padahal itu demi kebaikanku sendiri. Untuk Papa yang sering mengkhawatirkanku padahal papa hanya takut anaknya tertimpa sesuatu yang buruk. Untuk Papa yang selalu diam padahal di setiap doanya selalu menyebut nama anak-anaknya dalam tangis.
Untuk papa yang aku sayangi..
Aku selalu berdoa agar Papa selalu di beri perlindungan..
Aku ingin Papa selalu sehat. Aku ingin Papa selalu pulang dalam keadaan selamat. Aku ingin Papa selalu bisa kubawakan tasnya sepulang Papa kerja. Aku ingin melihat Papa meminum kopi di sela-sela pertandingan bola di tengah malam. Aku ingin menemani Papa melihat acara debat dan memaki pembicara yang padahal aku sendiri tidak tahu isi acara itu.
Aku selalu ingin bersama Papa…
Papa yang selalu diam. Papa yang selalu keras. Aku tahu kenapa Papa seperti itu. Papa mengalami kejamnya dunia setiap hari di luar sana hanya demi membelikanku buku untuk aku menuntut ilmu. Papa diterjang hujan dan panas di luar sana hanya untuk memberiku uang untuk aku dapat terus bersekolah.
Aku ingin Tuhan memberikan Papa umur yang panjang.
Agar Papa bisa lihat bahwa anak bandel sepertiku, bisa menjadi seseorang yang dapat Papa banggakan. Agar Papa bisa datang ke acara wisudaku dan melihatku menyelesaikan studiku dengan sempurna. Agar Papa bisa mengantarku ke airport untuk mengantarku belajar S2 di luar negeri sana. Agar Papa bisa melihatku menggunakan pakaian kerja yang anggun/gagah dan Papa bisa melihat bahwa anak kesayangannya bisa terlihat rapih dan berwibawa. 
Aku ingin Papa menjadi saksi dihari nanti ketika aku bersanding dengan pilihanku. Aku ingin Papa menjadi saksi ketika aku dan dia mengucap janji suci di hadapan Tuhan. Aku ingin Papa yang pertama kali menggendong anak-anakku kelak. Aku ingin Papa. 
Papa. Maafkan aku yang belum bisa membahagiakan Papa. 
Belum bisa membuat Papa tersenyum, yang ada hanya merepotkan dan menyusahkan Papa. Belum bisa membuat Papa mencium pipiku bangga, yang ada hanya aku yang selalu membuat masalah.
Tapi yakinlah, Pa. Di dalam daging di tubuhku ini, ada dagingmu. Di dalam darah yang mengalir di tubuhku ini, ada darahmu. 
Sebagian keberanian Papa, menempel di tubuhku. Sebagian ketangguhan Papa, mengalir deras di darahku. 
Suatu hari nanti, aku janji. Aku akan memberikan Papa sebuah kebanggaan meski tak dapat membandingi perasaanku yang bangga memiliki Papa yang hebat sepertimu. 
Suatu hari nanti, aku akan sukses. Aku akan menjadi seseorang. Untuk Papa dan Mama, sekarang aku berjuang.
Karena aku tahu. Perjuanganku tidak berarti apa-apa dibandingkan perjuangan Papa dan Mama membesarkanku selama belasan tahun dan sampai nanti. Pengorbananku tidak berarti apa-apa dibandingkan pengorbanan Mama dan Papa untuk merawatku dari kecil hingga sekarang dan hingga nanti.
Aku menyayangi kalian. Papa, Mama. :)

Jangan!

Jangan. 
Jangan dulu pergi,ma.
Mengandungku selama 9 bulan, bahkan lebih atau kurang. Aku tidak tahu bagaimana rasanya mengandung. Waktu aku membawa tas sekolahku yang beratnya tidak sampai 1 kg, badanku sudah lelah. Aku bisa membayangkan bagaimana rasanya sebuah perut yang sejak gadis kau rawat, membawa sebuah amanah dari Tuhan yang beratnya tak dapat kubayangkan. Menahan sakit karena aku yang terlahir sudah nakal senang menendang-nendang perut mama, padahal itu hanya membuat mama kesakitan. Menahan segala egois memakan makanan yang dilarang dokter hanya demi buah hati terlahir sempurna. Mengorbankan nyawa demi melahirkanku. Membesarkanku tanpa lelah. Terbangun di tengah malam dan menahan sakit ketika menyusuiku. Terbangun di tengah malam dan membersihkan kotoranku di popok-ku. Apalagi ketika aku dengan tidak sadar mengompol di baju barumu, tak ada marah sedikitpun tersirat di wajahmu. Mama membelai wajahku. Tak ada marah sedikitpun. Tak ada keluh sedikitpun. Membangunkanku ketika aku beranjak dewasa. Menyiapkan sarapan untukku. Menyetrikakan seragam sekolahku. Menyisirkan rambutku. Mengambil rapot sekolahku dan bahkan jika prestasiku menurun, mama tidak pernah memarahiku. Ketika aku dengan sengaja menyisakan makananku yang aku tidak pernah tahu bagaimana mama susah payah memasaknya, terkena cipratan minyak panas, terkena air mendidih, aku tidak tahu. Ketika aku pulang malam karena terlalu asyik bermain, mama mencariku, yang aku bahkan tidak tahu mama menangis di rumah menghawatirkan keadaanku di luar sana. Ketika aku pulang membawa orang yang aku sayangi untuk di kenalkan pada mama, aku tidak tahu bahwa mama takut malaikat kecilnya terlalu cepat untuk berpisah dengannya. Ketika aku belajar untuk memutuskan pilihanku dan berdebat denganmu mama, mama selalu mendoakan yang terbaik meski keinginan mama tidak sejalan dengan malaikat kecilnya. 
Mama menyayangiku lebih dari dia mencintai dirinya sendiri. 
Jangan dulu pergi sebelum aku sempat membalas kasih sayangmu,ma…
Jangan dulu pergi,pa. 
Mencari rezeki rupiah demi rupiah. Menerjang teriknya panas dan menembus derasnya hujan. Kau lakukan semua demi anak istrimu. Bahkan ketika papa kutanya mengapa bekerja sekeras itu, papa hanya menjawab ini semua semata-mata demi anak papa. Jagoan kecil papa. Mungkin aku lupa, tapi aku berusaha ingat. Ketika Tuhan memberiku hidup, papa yang pertama kali menitikkan air mata dan membisikkan kalimat-kalimat indah itu ke telingaku(karena aku muslim, papa membacakan aku adzan). Dalam kalimat indah itu, papalah yang berdoa pada Tuhan, meminta agar malaikat kecilnya dapat tumbuh menjadi orang hebat yang berguna bagi orangtua, dan juga orang lain. Aku mungkin lupa, tapi aku ingat. Ketika masih bayi, aku sering sekali mengganggu waktu papa yang sangat lelah sepulang bekerja. Aku menangis, bahkan ketika mama menggendongku, aku tak kunjung berhenti menangis. Ketika papa menggendongku dan papa bernyanyi yang bahkan mungkin suara papa bernyanyi tidak akan lulus di studio rekaman. Suara papa, terdengar merdu. Walau terdengar lelah, papa tidak berhenti bernyanyi sambil berkata anak baik tidak boleh menangis. Tangan papa, suara papa, membuatku tertidur lelap… dalam gendongan papa. Mungkin aku lupa, tapi aku ingat. Papa selalu menyuapiku sarapan, memandikanku, bahkan mengajarkanku memakai baju ketika aku masuk sekolah. Papa juga yang memarahiku ketika aku terjatuh di sepeda. Papa bilang anak pintar tidak boleh menangis. Sekarang aku tahu, Papa mengajarkan aku untuk bisa menjadi manusia yang tangguh, yang tidak mudah menyerah pada tantangan di hidup ini. Papa yang ketika aku menginjak dewasa semakin khawatir kehilanganku. Papa yang selalu menganggapku belum dewasa padahal papa hanya ingin aku terus menjadi malaikat kecil yang meminta papa memangku dan menggendongku. Papa yang selalu menelfonku ketika aku pulang larut dan menanyakan keadaanku. Papa yang semakin tua dan rambutnya semakin putih. Papa yang selalu diam padahal papa setiap doa tidak meluputkan namaku dari doanya. Papa yang setiap harinya memikirkan apa yang dimakan malaikat kecilnya sudah cukup bergizi atau belum.
Jangan dulu pergi, ma. 
Jangan dulu pergi sebelum aku sempat memberi mama bangga yang sedang aku usahakan. Jangan dulu pergi sebelum aku sempat membalas semua kasih sayangmu meski aku tahu aku tidak akan pernah bisa, karena kasih sayangmu sungguh lebih luas dari samudera. Jangan dulu pergi sebelum aku sempat membuat mama tidak marah-marah lagi karena aku malas belajar karena aku sering pulang malam. Jangan dulu pergi sebelum aku sempat mengubah air mata yang sering mama keluarkan karena kesal padaku, menjadi sebuah air mata haru melihatku sukses. Jangan dulu pergi sebelum aku sempat bersujud di kedua kaki mama untuk meminta restu untuk tinggal dengan pasangan pilihanku. Jangan dulu pergi sebelum aku sempat membuat mama bahagia menikmati masa tua. 
Papa, jangan dulu pergi. 
Jangan dulu pergi sebelum aku berhasil menjadi seseorang yang tangguh sepertimu. Jangan dulu pergi sebelum aku berhasil membalas semua letihmu membesarkanku, meski aku tahu letihmu sudah mengering dan tak dapat kubalas dengan apapun. Jangan dulu pergi sebelum jagoan kecilmu ini berubah menjadi seseorang dewasa yang dapat membuat manfaat bagi orang lain sepertimu. Jangan dulu pergi sebelum aku bisa membuatmu yang mencariku setiap waktu karena aku pulang malam, menjadi mencariku karena kau ingin mengenalkan pada relasimu bahwa anakmu tumbuh menjadi seseorang yang sukses. 
Apa yang aku bisa balas pada kalian? Kasih sayang yang kalian berikan, lebih luas dari tata surya. Kasih sayang yang kalian limpahkan, lebih banyak dari pasir di pantai. 
Jangan dulu pergi, ma, pa. 
Tuhan, jangan ambil papa dan mama.