CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Minggu, 12 Juni 2016

Kenang yang Menggenang

Kenang itu selalu ada, menjelma kedalam pedih yang membuatku tak pernah lupa bagaimana cara menahan sakit.
Mengapa waktu tak jua memberiku kesempatan untuk tau tentang apapun yang semestinya aku tau?
Ingin rasanya aku berlari, menelusuri ruang yang mampu menjawab semua tanda tanya ini.
Penat.
Rindu.
Benci.
Kecewa.
Semua menyatu, mengalir dalam darahku tanpa kenal rasa iba.
Hampir menyerah aku menghadapi takdir, berat rasanya.
Apa aku harus terdiam? Atau beranjak?
Haruskah aku 'lari ke hutan lalu ke pantai' seperti kata puisi Rako Prijanto?
Inikah nasib dari anak yang hidup dalam keluarga yang terpecahbelah?
Rasa tak sanggup aku membelokkan garis yang telah Tuhan tetapkan, berharap keajaiban datang membawa kabar bahagia.
Lelah aku menahan ego sendiri demi ego orang lain, seperti semata ingin mengalah pada sebuah rasa sakit.
Muak aku.
Lalu kepada hujan airmata aku berterimakasih, sebab karenanya hatiku mampu lebih lega menghadapi kenyataan yang pahit meski harus menyisakan kenang.
Kenang yang menggenang, antara rindu, benci, juga keputus-asaan..

Kamis, 09 Juni 2016

Untukmu

Izinkan aku merindumu sejenak.
Sayang, beri aku celah agar rindu ini dapat dengan baik menelusuri jiwa yang tak lepas oleh tentangmu.
Aku merindukan setiap kenangan yang kita sisakan dalam jejak perjalanan hidup ini.
Bukankah akan ada begitu banyak kenang yang nantinya akan kita ingat bahwa kebahagiaan adalah kita yang menciptakan?
Ada jemari yang tak kuasa menahan rasa untuk menulis sesuatu yang tak mampu ku ucap, meski aku sadar bahwa aku bukan penyair yang mahir bersajak, bukan pula penulis handal yang mampu menyisakan makna dalam dibalik tiap-tiap kalimat yang dituliskan.
Ahh sudahlah, aku memang tak pandai merangkai kata.
Hei sayang, lihat aku, lihatlah usahaku, jangan pernah ragukan aku.
Aku percaya bahwa setiap orang dapat membawa kebahagiaan di hidup oranglain, sebagaimana kamu yang selalu membawa kebahagiaan dalam hidupku, begitu pula sebaliknya, tentang keinginanku untuk membawa kebahagiaan dalam hidupmu.
Ada rasa yang ingin aku katakan kepadamu, tetapi cukup kusimpan dalam hati, sebab kamu lebih tau bahwa aku begitu mencintaimu tanpa perlu lisan ini untuk berucap.
Ketahuilah, ada namamu dalam setiap sujudku di hadapNya, memohon untuk kamu digariskan hanya untukku.
Penuh harap diri ini meminta kepada Yang Maha dari segala Maha, agar kamulah kelak yang menemaniku menghabiskan sisa hidupku..