CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Senin, 21 Oktober 2013

Jangan!

Jangan. 
Jangan dulu pergi,ma.
Mengandungku selama 9 bulan, bahkan lebih atau kurang. Aku tidak tahu bagaimana rasanya mengandung. Waktu aku membawa tas sekolahku yang beratnya tidak sampai 1 kg, badanku sudah lelah. Aku bisa membayangkan bagaimana rasanya sebuah perut yang sejak gadis kau rawat, membawa sebuah amanah dari Tuhan yang beratnya tak dapat kubayangkan. Menahan sakit karena aku yang terlahir sudah nakal senang menendang-nendang perut mama, padahal itu hanya membuat mama kesakitan. Menahan segala egois memakan makanan yang dilarang dokter hanya demi buah hati terlahir sempurna. Mengorbankan nyawa demi melahirkanku. Membesarkanku tanpa lelah. Terbangun di tengah malam dan menahan sakit ketika menyusuiku. Terbangun di tengah malam dan membersihkan kotoranku di popok-ku. Apalagi ketika aku dengan tidak sadar mengompol di baju barumu, tak ada marah sedikitpun tersirat di wajahmu. Mama membelai wajahku. Tak ada marah sedikitpun. Tak ada keluh sedikitpun. Membangunkanku ketika aku beranjak dewasa. Menyiapkan sarapan untukku. Menyetrikakan seragam sekolahku. Menyisirkan rambutku. Mengambil rapot sekolahku dan bahkan jika prestasiku menurun, mama tidak pernah memarahiku. Ketika aku dengan sengaja menyisakan makananku yang aku tidak pernah tahu bagaimana mama susah payah memasaknya, terkena cipratan minyak panas, terkena air mendidih, aku tidak tahu. Ketika aku pulang malam karena terlalu asyik bermain, mama mencariku, yang aku bahkan tidak tahu mama menangis di rumah menghawatirkan keadaanku di luar sana. Ketika aku pulang membawa orang yang aku sayangi untuk di kenalkan pada mama, aku tidak tahu bahwa mama takut malaikat kecilnya terlalu cepat untuk berpisah dengannya. Ketika aku belajar untuk memutuskan pilihanku dan berdebat denganmu mama, mama selalu mendoakan yang terbaik meski keinginan mama tidak sejalan dengan malaikat kecilnya. 
Mama menyayangiku lebih dari dia mencintai dirinya sendiri. 
Jangan dulu pergi sebelum aku sempat membalas kasih sayangmu,ma…
Jangan dulu pergi,pa. 
Mencari rezeki rupiah demi rupiah. Menerjang teriknya panas dan menembus derasnya hujan. Kau lakukan semua demi anak istrimu. Bahkan ketika papa kutanya mengapa bekerja sekeras itu, papa hanya menjawab ini semua semata-mata demi anak papa. Jagoan kecil papa. Mungkin aku lupa, tapi aku berusaha ingat. Ketika Tuhan memberiku hidup, papa yang pertama kali menitikkan air mata dan membisikkan kalimat-kalimat indah itu ke telingaku(karena aku muslim, papa membacakan aku adzan). Dalam kalimat indah itu, papalah yang berdoa pada Tuhan, meminta agar malaikat kecilnya dapat tumbuh menjadi orang hebat yang berguna bagi orangtua, dan juga orang lain. Aku mungkin lupa, tapi aku ingat. Ketika masih bayi, aku sering sekali mengganggu waktu papa yang sangat lelah sepulang bekerja. Aku menangis, bahkan ketika mama menggendongku, aku tak kunjung berhenti menangis. Ketika papa menggendongku dan papa bernyanyi yang bahkan mungkin suara papa bernyanyi tidak akan lulus di studio rekaman. Suara papa, terdengar merdu. Walau terdengar lelah, papa tidak berhenti bernyanyi sambil berkata anak baik tidak boleh menangis. Tangan papa, suara papa, membuatku tertidur lelap… dalam gendongan papa. Mungkin aku lupa, tapi aku ingat. Papa selalu menyuapiku sarapan, memandikanku, bahkan mengajarkanku memakai baju ketika aku masuk sekolah. Papa juga yang memarahiku ketika aku terjatuh di sepeda. Papa bilang anak pintar tidak boleh menangis. Sekarang aku tahu, Papa mengajarkan aku untuk bisa menjadi manusia yang tangguh, yang tidak mudah menyerah pada tantangan di hidup ini. Papa yang ketika aku menginjak dewasa semakin khawatir kehilanganku. Papa yang selalu menganggapku belum dewasa padahal papa hanya ingin aku terus menjadi malaikat kecil yang meminta papa memangku dan menggendongku. Papa yang selalu menelfonku ketika aku pulang larut dan menanyakan keadaanku. Papa yang semakin tua dan rambutnya semakin putih. Papa yang selalu diam padahal papa setiap doa tidak meluputkan namaku dari doanya. Papa yang setiap harinya memikirkan apa yang dimakan malaikat kecilnya sudah cukup bergizi atau belum.
Jangan dulu pergi, ma. 
Jangan dulu pergi sebelum aku sempat memberi mama bangga yang sedang aku usahakan. Jangan dulu pergi sebelum aku sempat membalas semua kasih sayangmu meski aku tahu aku tidak akan pernah bisa, karena kasih sayangmu sungguh lebih luas dari samudera. Jangan dulu pergi sebelum aku sempat membuat mama tidak marah-marah lagi karena aku malas belajar karena aku sering pulang malam. Jangan dulu pergi sebelum aku sempat mengubah air mata yang sering mama keluarkan karena kesal padaku, menjadi sebuah air mata haru melihatku sukses. Jangan dulu pergi sebelum aku sempat bersujud di kedua kaki mama untuk meminta restu untuk tinggal dengan pasangan pilihanku. Jangan dulu pergi sebelum aku sempat membuat mama bahagia menikmati masa tua. 
Papa, jangan dulu pergi. 
Jangan dulu pergi sebelum aku berhasil menjadi seseorang yang tangguh sepertimu. Jangan dulu pergi sebelum aku berhasil membalas semua letihmu membesarkanku, meski aku tahu letihmu sudah mengering dan tak dapat kubalas dengan apapun. Jangan dulu pergi sebelum jagoan kecilmu ini berubah menjadi seseorang dewasa yang dapat membuat manfaat bagi orang lain sepertimu. Jangan dulu pergi sebelum aku bisa membuatmu yang mencariku setiap waktu karena aku pulang malam, menjadi mencariku karena kau ingin mengenalkan pada relasimu bahwa anakmu tumbuh menjadi seseorang yang sukses. 
Apa yang aku bisa balas pada kalian? Kasih sayang yang kalian berikan, lebih luas dari tata surya. Kasih sayang yang kalian limpahkan, lebih banyak dari pasir di pantai. 
Jangan dulu pergi, ma, pa. 
Tuhan, jangan ambil papa dan mama. 

0 komentar:

Posting Komentar