Ini
adalah kisah tentang seorang gadis yang merasa bahwa hidupnya sangat berbeda
dengan hidup mereka. Kisah tentang seberapa besar tanggung jawabnya sebagai
seorang kakak. Kisah tentang pengalaman hidup dari perceraian kedua orang
tuanya. Kisah tentang ia yang tak mampu mengungkapkan rasa sedihnya kepada
siapapun. Kisah tentang ia yang dihadapkan dengan berbagai cobaan yang
membuatnya semakin terpuruk dan merasa hidup ini kelam, abu-abu, hampa, dan
tidak nyata..
Dengan
menginisialkan nama gadis tersebut, aku harap kalian dapat mengerti apa yang ia
rasakan. Dan inilah kisahnya..
***
Pagi
itu, desember 2009, aku terbangun dari tidurku dan mendengar kedua orang tuaku
sedang membicarakan sesuatu yang sepertinya nampak serius. Aku yang pada saat
itu tidak mengerti apa yang terjadi langsung keluar kamar dan menghampiri kedua
orang tuaku. Mereka menatapku dengan wajah teramat penuh beban.
“Ren,
ibu pengen ngomong sama Rena,” ucap ibu dengan hati-hati saat aku duduk
dihadapan ayah dan ibu.
“Rena
kan udah gede, Rena pasti ngerti semua ini ketimbang kak Mia yang lebih tua
dari kamu. Hubungan ibu sama ayah udah ga bisa lagi di pertahanin. Ibu udah ga
kuat tinggal sama ayah. Ibu ngomong ini ke kamu karena ibu fikir pemikiran kamu
lebih dewasa daripada pemikiran kakak kamu. Ibu harap kamu ngerti. Ibu dan ayah
cerai bukan berarti ibu ga sayang sama kalian, tapi karena ibu bener-bener udah
ga tahan sama semua ini. Ibu udah ngerasa ga tahan gini sejak dulu Ren, tapi
ibu pertahanin ini semua buat anak-anak ibu. Dan sekarang udah puncaknya banget
ibu ngerasa ga kuat nahan semua ini,” jelas ibu perlahan.
“Kenapa?”
aku bertanya dalam hati karena tak mampu bertanya langsung.
“Ren,
kamu pasti ngerti dan ngerasain apa yang ibu kamu rasain ini. Ayah sama ibu
cerai bukan berarti kalian ga akan lagi kumpul bareng sama ibu ataupun ayah.
Ayah ngasih tau kabar ini duluan karena ayah rasa pemikiran kamu lebih dewasa.
Kamu sendiri kan tau kalo ka Mia pemikirannya masih anak-anak dan ga bisa di
ajak serius. Tolong kasih tau ka Mia pelan-pelan ya..” ayah melanjutkan
pembicaraan ibu.
“Kenapa bu? Kenapa yah? Terus nanti
Rena ikut siapa?” pelupuk mataku mulai menampung butiran air mata yang hendak menetes, namun
dengan sekuat tenaga aku menahan air mata tersebut. Aku tak ingin menangis dan
terlihat lemah.
“Tolong
Rena ngertiin ibu, Rena kan udah gede. Tolong juga Rena bilangin pelan-pelan ke
kak Mia tentang perceraian ini,” ibu memohon, menatap mataku, dan aku melihat
butir-butir air mata itu jatuh membasahi pipinya yang cantik. Sungguh akupun
rasanya ingin menangis sekejar-kejarnya, namun seperti yang aku bilang, aku tak
ingin terlihat lemah.
Ayah
mengelus rambutku dan mencium keningku. “Kuatkan hatimu nak,” ucapnya.
“Udah
ya Rena mau mandi dulu,” aku mengalihkan pembicaraan dan melangkah pergi meninggalkan
mereka. Dengan butir-butir air mata yang membasahi pipiku tanpa sepengetahuan
mereka.
“Kenapa ya Allah? Kenapa?”
batinku. Membantah kenyataan dengan sejuta pertanyaan ‘kenapa’ yang terus
mengusik pikiranku.
***
“Kak,”
ucapku membuka pembicaraan pada saat menemani kak Mia ke counter pulsa.
“Hmm,”
ucapnya acuh.
“Dulu
Rena pernah kepikiran kalo ayah sama ibu cerai. Dan sekarang jadi kenyataan.
Kakak mau ikut siapa?” aku bertanya dengan sangat hati-hati.
“Maksudnya?”
“Iya,
beberapa hari yang lalu ayah sama ibu bilang kalo mereka mau cerai. Kalo kakak
bisa milih, kakak milih ikut siapa?”
“Kakak
mau ikut ibu aja Ren,”
“Rahma
pasti ikut ibu juga ya,” ucapku pelan.
“Pasti.
Tau sendiri kan Rahma deket banget sama ibu. Emang Rena mau ikut siapa?”
“Kalo
ka Mia sama Rahma ikut ibu, berarti Rena ikut ayah. Rena gak mungkin ninggalin
ayah sendirian, nanti ayah siapa yang ngurusin? Nanti kakak sering-sering main
ke rumah ya,” ucapku getir. “Oh iya, jangan sampe Rahma tau ya ka,” lanjutku.
***
Ya,
semenjak mendengar kabar itu, hidupku kini menjadi lebih berat. Broken home,
ya, itulah status keluargaku nanti, esok, lusa, dan selamanya. Aku tidak akan
merasakan hangatnya rumah yang harmonis lagi. Aku hanya bisa menghibur diri,
berpikiran bahwa semua akan baik-baik saja, tidak akan ada yang berubah dalam
hidup ini. Aku akan tetap menjalani hidup ini seperti biasa, seperti layaknya
anak-anak lain yang keluarganya harmonis.
Hingga
pada suatu malam, saat ibu sedang memindahkan baju-bajunya ke sebuah koper yang
tergeletak di sampingnya. “Ibu mau kemana,” tanya Rahma.
“Ibu
mau pulang kampung Ma, aki lagi sakit, minta di temenin sama ibu,” ucapnya
bohong.
“Sampe
kapan bu?” tanyanya lagi.
“Ya,
sampe aki sembuh,”
“Ikut
bu,” ucapnya penuh harap dengan suara yang bergetar menahan tangis.
“Kan
Rahma besok sekolah, kapan-kapan aja ya,” bujuk ibu. Rahma mulai menangis.
Aku
yang mendengar ibu menangis membujuk Rahma agar tidak ikut ibu ke kampung yang
sebenarnya itu adalah sandiwara dari perceraian ibu dan ayah agar Rahma tidak
mengetahui hal tersebut meneteskan air mata, merasakan kesedihan tramat dalam
disini, di rumah ini, dan di hati ini.
“Udah,
besok ibu anterin Rahma ke sekolah ya,” ibu mencium kening Rahma.
Esoknya,
seperti yang dijanjikan ibu, ibu mengantar Rahma ke sekolah. Ibu sempat
berbicara kepada wali kelas Rahma tentang perceraian ini, berharap wali
kelasnya mengerti dan menghibur Rahma. Ibu bilang, Rahma menangis saat ibu
hendak pulang.
“Bu,
maafin Ade ya. Maafin ade yang ga bisa pertahanin ini semua. Ibu jaga diri ya,
Ade titip anak-anak Ade,” ibu pamit pada nenek. Aku hanya terdiam menahan
tangis saat ibu terisak memeluk nenek yang sedang menangis kejar, meratapi
keberangkatan ibu.
“Sabar
Ren,” hibur ka Lia, sepupuku yang pada saat itu sedang menginap dirumahku bersama
nenek.
“Ren.
Mia, sini. Ibu mau berangkat,” ibu memanggil kami.
“Maafin
ibu ya, kalian jaga diri kalian baik-baik. Jangan sedih ya. Ibu pasti bakal
sering-sering nengokin kalian. Kalian bisa nginep di tempat ibu nanti pas ibu
udah pulang dari kampung. Jaga Rahma ya, ibu titip Rahma,” Ibu terisak dan
memeluk aku dan ka Mia yang juga menangis kejar.
“Li,
Bude titip anak-anak bude ya,” ucapnya pada ka Lia.
“Iya
bude, hati-hati ya bude,” ucap ka Lia.
“Udah
ya, ibu berangkat dulu. Kalian jangan nangis,” ibu terbangun dari duduknya dan
melangkah keluar rumah diiringi dengan ayah yang membawakan koper ibu. Ayah
mengantar kepulangan ibu ke rumah kedua orang tuanya di Cianjur.
“Ibuuu,”
ucapku terisak, melepas keberangkatan ibu yang mulai membuka pagar rumah.
“Ibuuuu,”
ka Mia terisak.
Aku
menatapi kepergian ibu, menatapnya dari luar rumah hingga ibu dan ayah hilang
di ujung jalan. Aku malangkah menuju kamar dengar airmata yang berlinang. Ka
Mia duduk di ruang tamu dan terisak.
“Udah
put, jangan nangis lagi,” ka Lia mengusap lengan kananku.
“Ibu
ka, ibu,” aku menangis sejadi-jadinya.
***

0 komentar:
Posting Komentar